Blank 75 The Dead Zone - Sajak Aksara

Blank 75 The Dead Zone



https://pixabay.com/id/images/search/volcano/
Gunung Semeru

Kerumunan manusia telah mewabah di sekeliling tenda tenda, malam tak seindah yang pernah dibayangkan setiap kaki disini. Semuanya bergemuruh seiring dengan hidup padamnya cahaya memetir diatas nirwana. Mata masih sayup terkesan takut menjajal jalan setapak diujung sana. Bukan kantuk, apalagi mata datuk.


Beberapa jam setelahnya.

Bendera kusut dan lusuh tertampar angin sangat amat cepat dan tidak gemulai seperti bendera yang ada di istana. Terurai tak rapih sama sekali, tak berarah, sebab terbawa kemana mana. Bunyi tanparan teramat keras hingga terdengar sebelum mata melihatnya. Tak setinggi tiang bendera tujuh belasan, dan tak sependek pagar rumah di kampung halaman. Namun cukup indah dipandang ketika mata bersitatap bersamanya. Semua kaki yang berhasil akan segera bahagia manakala melihatnya.

Tidak ada yang bisa dilihat diatas sana. Hanya ada kedinginan dan hawa kematian yang bergerombol mengikuti. Rasa takut bercampur bahagia mengikuti setiap langkah ketika debu debu dibawah sana sudah tak ada lagi disini. Walau sebenarnya ketakutan yang teramat sangat sudah dilewati dibawah sana. Masih saja ada ketakutan lain yang mengikut sampai disini.

Hati menjadi semrawut bersama kaki kaki disini, entah mengapa jejal menjadi bebal bersama pundak dan ujung tertinggi pulau Jawa. Tangis merapuh tanpa di buat buat, semuanya lepas habis tak tersisa. Mata tersendu ketika hati terketuk dengan ego yang selama ini memonopoli kehidupan. Sedih mendidih pedih dititik kluminasi tertinggi tanah para Dewa.


Beberapa jam sebelum Tangis.

Rasa temeh ataupun peremehan selalu menjadi pengikut pada setiap manusia ketika berhadapan dengan sesuatu yang dianggap biasa. Menurut manusia seperti itu, namun bahaya sedang menanti didepan sana. Tak ada yang tahu sama sekali, terlebih bagi mereka yang tak pernah menjajali setapakan didepan sana. Manusia terlalu angkuh dengan kesempurnaan yang diberikan pencipta padanya.

Nirwana meneduh padam, walau tangis tak kunjung membawanya melepas itu semua. Gemuruh deram bersamaan kilat memekikan telinga setiap manusia yang keluar dari tenda untuk mengikuti nafsunya semata. Bagaimana tidak, jika mereka menjadikan tempat ini sebagai ajang popularitas. Menjadikannya sebagai kebanggaan, lalu memamerkannya disetiap media sosial yang dimiliki. Serakah.

Kepala ditempeli senter, tepat dijidat demi menerangi jalan disetiap gelap. Malam masih saja menjadi hal yang tak bisa dilihat dengan mata manusia, entah darimana asalnya. Berjalan, hawa memanas dan seluruh tubuh mulai meradang karena itu. Dibawah batas vegetasi masih teduh dan kematian belum datang bagi setiap jiwa yang berdatangan. Biasa dan manusia masih meremehkan dengan hal ini.

Lalu, setelah vegetasi dilewati. Semuanya terdiam kaku dan bisu. Disinilah semuanya berawal.

Panas yang menyelimuti tadi kini hilang entah kemana perginya. Panas tersebut terlalu takut untuk sampai pada tempat itu. Sekarang, bukan panas saja menjauh dan takut. Tetapi semua kaki yang sudah terlanjur masuk pada jalur tersebut. Hati memekik takut, rasanya lebih baik kembali saja. Namun, ego lebih tinggi ketimbang itu semua. Demi ajang popularitas.

Persediaan air minum sudah sebatasnya saja, tidak bisa lagi ditenggak sebanyak dibawah sana. Dingin yang teramat sangat menyeruak masuk kedalam tubuh, entah setebal apa pelindung yang dipakai untuk menghangatkan diri dari dingin. Mereka tetap saja masuk dan mulai membuat khawatir.

Tidak hanya dingin, badai mulai ikut bersahut sahutan bersamaan dengan kabut tebal. Sangat tebal, jarak pandang hanya bisa menacapai dua meter saja. Bagi setiap pendaki ini momen yang sangat ditakuti. Ketinggalan ataupun meninggalkan akan menghasilkan kesesatana di tempat ini. Semua manusia hanya bisa berseruak dalam hati sembari membawa ego masing masing.

Kaki mulai terpingkal lelah dan letih yang menusuk betis. Meminta ampun untuk tidak berjalan menapaki ketinggian lagi. Tubuh gemetaran tak karuan seakan overdosis oleh kafein yang berlebihan. Otak dan akal tak bisa menyatu. Mulut dan lidah menjadi bungkam tak bersuara. Hanya ada hati yang merontah rontah meminta ampun. Tidak bisa, semuanya sudah berada disini. Jika kembali adalah pilihan, akan menjadi hal yang sama saja dengan berlanjut menapaki ketinggian ini.

Seluruh tubuh menjadi kaku, pasir menimbun hingga pergelangan kaki tak terlihat. Jika dibiarkan maka badai dan dingin serta kabut akan menikam habis setiap kaki yang tak mau melangkah. Paksa, hanya itu yang bisa dilakukan.

Apabila mata tidak jeli memandang, maka semua akan menjadi celaka dan berimbas pada kematian diri sendiri dan orang lain. Bagaimana tidak, sedikit salah jalur maka jurang siap menelan tak tersisa bagi siapa yang tak waspada. Bebatuan yang besar, menempel pada pasir kapan saja bisa menjadi malaikat maut bagi manusia disini. Tak ada yang terlihat, hanya ada butiran senter tanpa manusianya.

Semuanya menjadi kusut, pikiran tak tenang. Semuanya tiba tiba menjadi mengada-ngada perihal kematian. Semuanya memikirkan hal yang sama.

Bagaimana jika kami bernasib yang sama dengan Hoe Gie, meregang nyawa diatas tempat ini. Lalu siapa yang akan membawa mayat kami kebawa. Bagaimana dengan nasib keluarga yang ditinggalkan, bagaimana dengan yang lainnya dan bagaimana dan bagaimana.

Lantunan tersebut terngiang terus menerus, melekat tepat di pikiran kami. Tak terkecuali, semua memikirkan hal yang sama. Perut menjadi mual tak karuan, kaki gemetaran, nafas tersengal lelah teramat sangat. Ini seperti tubuh yang berjalan tanpa nyawa. Atau mungkin kematian akan membawa kami bersama badai ini.

Akhirnya,

Ego, berhasil terpatahkan dan terkalahkan oleh rasa takut yang ditunjukkan penguasa alam raya ini. Semuanya menangis haru manakala bendera tersayat robek mengepak-kepak terpandang mati. Kaki kaki manusia berhasil menapaki titik kluminasi tertinggi tanah jawa. Bukan, bukan berhasil akan hal itu. Tetapi egolah yang berhasil dikalahkan ditempat ini. Seluruh halusinasi perihal kematian dibawah sana tiba tiba buyar entah kemana perginya.

Hanya ada syukur dan rasa terimakasih untuk pencipta yang masih memberikan kesempan hidup demi memperjuangkan cita cita masing masing. Air mata berlinang bersamaan ketika mengingatNya, manusia yang memiliki sifat antagonis akan tiba tiba menjadi introvert dan penakut. Semuanya kembali mengingat siapa penguasa sebenarnya.

Hati menciut tak berdaya didepanNya, linangan air mata bercucuran jatuh bersama dengan bahagia. Disini semuanya menjadi erat, semuanya serasa adalah saudara kandung sendiri. Entah mengapa rasa sosial dan peduli menjadi tumbuh dan tak terbendung oleh penghalang apapun. Semuanya sama, sama sama manusia. Tak ada bedanya. Manusialah yang membuat perbedaan tersebut.


Setelah beberapa hari berlalu.

Yang tersisa dan tertinggal hanya ada cerita. Disisi lain ada pertanyaan yang mengundang rasa penasaran. Setelah bergelut dengan hari hari yang membiru, diketahui manusia yang menapaki ketinggian waktu itu terkena gejala senyum bahagian. Walau ada seberkas yang masih menjanggal dihati masing masing.

Fenomena cap clouds atau awan topi telah mematahkan segala ego manusia disana. Memberikan kejutan hangat yang hampir meregang nyawa setiap jiwa dari manusia. Tersadar hati tidak sekuat Hoe Gie dalam perjalanannya. Tetap saja, hati menjadi reda dan damai dengan ego setelah ditempa bersama cap clouds yang luar biasa memberikan kebinasaan.


Untuk Soraya Dipelukan Ayah,
Maaf, terlalu sibuk dengan diri
Sampai lupa pada kematian yang teramat dekat
Sampaikan salam pada beliau
Mahameru menyapa dari ketinggian.


Semeru, December 2018.

Share:

Posting Komentar

Makan Nasi Pecel Di Warung Tertinggi Indonesia Milik Mbok Yem

Gunung Lawu Sepertinya makan di warung warung pingir jalan sudah biasa, sudahkah kamu mencicipi makanan di gunung? Pastinya memiliki rasa da...

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes