Kembara | Bagian Kelima - Sajak Aksara

Kembara | Bagian Kelima

Pengembaraan Menuju Telaga


Sembuh Dari Juli


Sembab ragu ragu dan usaha kesekian kali untuk berpulang tidak pernah ada. Perwujudan dibentuk luka dan rasa sakit di setiap perapian malam. Dingin dingin masuk menusuk tulang, gerombolan gigi terkatup katup, sebagai sisa dari pembuktian Juni yang masih melompong luas di dalam pikiran.


Saat fajar tiba pagi tadi, mata dari lembutnya surya menepuk pelupuk pundak mata tepat di balik bilik bambu. Suara kepakan dan kokok ayam lebih dulu menyambut perihnya mentari yang menuai panas di atas permukaan bumi. Begitu juga luka yang sedang berusaha sembuh dari hilangnya gerimis.


Tunda, tidak ada yang perlu ditunda hari ini. Kaki harus berjalan maju dan menepati janji pada potongan lagu hari kemarin. Sempat terbayang di dalam benak, jika mentari pagi ini lebih baik dan lebih terang. Maka penyembuhan dari luka sebelumnya akan segera tiba, tetapi semesta selalu menyimpan beribu syair yang tidak pernah diketahui manusia.


Serangkaian perjalanan dari timur di langkah pertama adalah beban yang teramat sangat, bahkan kenangan yang tergenang di kepala membuat hati terbebani dengan masa lalu. Bait bait paragraf lagu sunyi membunuh teriakan paling keras di nirwana. Telinga dari burung burung terbakar akibat sunyi yang melandanya, tidak dengan bising.


Gelap sebelum fajar ini, sambutan purnama pada Juli lebih memeriahakn malam di banding kumpulan ombak di bibir pantai yang memecah karang. Jika saja purnama dan sore bisa bersama, maka mentari akan begitu cemburu padanya. Pun dengan anak panah di tangan gadis cantik, lelaki dari timur akan segera mendatanginya walau hanya membawa bongkahan batu hitam.


Tubuh mulai membaik dan pulih dari terjangnya badai yang lalu. Apa apa saja di depan sana pasti akan lebih sakit dan perih untuk dihadapi. Dan tetap saja, Juli akan menyembuhkan segala apa yang telah luka. Kewarasan akal perlu untuk membunuh ego ketika pikiran mulai melantur di tengah tengah kebingungan arah.


Menuju jalan panjang, 14 Juli 2020.


Share:

Posting Komentar

Makan Nasi Pecel Di Warung Tertinggi Indonesia Milik Mbok Yem

Gunung Lawu Sepertinya makan di warung warung pingir jalan sudah biasa, sudahkah kamu mencicipi makanan di gunung? Pastinya memiliki rasa da...

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes