Kembara | Bagian Keempat - Sajak Aksara

Kembara | Bagian Keempat

Pengembaraan Menuju Telaga


Juni Berpulang


Danau di bawah kaki gunung membiaskan senyum, rekahan dari tawa anak anak desa. Lagi dan lagi kaki tetap bersikukuh dengan hati, masih dengan perihal perjalanan menuju mata angin yang sama sekali tak berarah. Layar layar nahkoda terbongkar dan dihancurkan derasnya badai bulan Juni. Tidak ada lagi musim semi dengan guguran cantik di taman.


Kebingungan melanda pikiran setiap malam, kepergian di detik pertama selalu saja menghancurkan kekokohan mata dengan gelimang air yang terus berjatuhan. Merengek bak anak anak yang kehilangan ibu, saat terbangun dari tidur. Bukan tentang patah hati, apalagi asmaranya para remaja. Ini adalah ragu yang mengoyak sunyi.


Tubuh terbaring lemas, bukan karena lapar. Tetapi rekam jejak dari kepergian begitu cepat menikam beberapa sendi ingatan di kepala. Sakit sekali rasanya, beberapa ruak suara di dalam rongga tak bercahaya menuntun bising masuk ke dalam kepala dan memenuhinya. Tidak ada lagi bayang bayang harapan sejak itu.


Sesekali jarum jam berdetak tepat di depan mata, jantung berdebar sekencang kencangnya. Kaki kaki tak berjalan sama sekali, kaku di atas tanah basah yang lembab karena hujan. Matahari menuju hari paling terik, hingga pelangi tak akan berani menampakkan diri walau hujan bulan juni baru saja mengguyur bumi.


Purnama tak sebulat malam yang lalu, ia tampak lebih murung dari bulan bulan sebelumnya. Gerombolan awan hitam menutupi senyumnya, begitu juga dengan wajah di atas kasur milik rumah tuan. Jahat sekali, bibir terkatup katup meminta rengekan kembali. Menyerah saja, begitu purnama tenggelam ditelan fajar. Akan kelihatan bagian yang indah disana, mungkin  tidak.


Jeruji besi di tiang tiang dinding berubah menjadi tombak paling mematikan ketika seseorang berpamit pulang dan pergi untuk selamanya. Begitu juga dengan juni yang akan berpamit di penghujung hari, tepat di saat bentangan cakrawala berwarna kuning pekat menghitam di bungkus temaram. Anak anak akan mendamba dengan derasnya duka yang diberikan juni, sampai saat berpulang pun ia masih meneteskan air langit.


Menuju jalan panjang, 13 Juli 2020.

Share:

Posting Komentar

Makan Nasi Pecel Di Warung Tertinggi Indonesia Milik Mbok Yem

Gunung Lawu Sepertinya makan di warung warung pingir jalan sudah biasa, sudahkah kamu mencicipi makanan di gunung? Pastinya memiliki rasa da...

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes