Gunung Kembang, Ego Bersama Ketidakpedulian | Jurnal #7 - Sajak Aksara

Gunung Kembang, Ego Bersama Ketidakpedulian | Jurnal #7

Sebuah petualangan yang dilakukan oleh artis cantik Debi Sagita ke Gunung Kembang
Instagram @debisagita


“Terkadang manusia lupa dengan sifat aslinya, sampai lupa sudah mengganggu kehidupan manusia lainnya. Pada akhirnya mata menjadi pedih dan tak bisa disembuhkan lagi, untuk waktu yang cukup lama.”

Tidak ada yang lebih baik dari ini semua. Cerita dari anak anak yang masih menghamba pada lembah lembah di gunung.

Berawal dari ajakan yang mendadak, sepertinya dari jurnal jurnal sebelumnya juga adalah ajakan yang mendadak. Sama halnya dengan perjalanan ke gunung kali ini. termasuk kedalam ajakan yang mendadak, tanpa persiapan dan rencana apapun. Tiba tiba saja ada, entah darimana datangnya. Padahal tak pernah diminta perihal ini.

Ini adalah pendakian mereka, mereka yang ingin mendaki gunung Sindoro. Mereka inilah manusia yang telah lama merencakan hal ini. mereka benar benar ingin mendaki gunung yang ada di Temanggung ini. sampai akhirnya seseorang mengajakku untuk ikut dalam pemdakian. Dengan alasan mereka mengajakku adalah pengalaman. Bukan pengalaman masalah pendakian atau apalah itu namanya. Melainkan karena diri ini sudah pernah menjajaki gunung Sindoro sebelumnya. Oleh karena itu ajakan datang padaku, dengan dalih saya dijadikan sebagai penunjuk jalan. Ah, rasa rasanya gunung sudah ada jalurnya. Mengapa harus ada penunjuk jalan pula.

Saya tak menolak ajakan tersebut, ini adalah kesempatan langkah seumur hidup. Kok bisa langkah? Disebabkan pendakian ini adalah pendakian pertamaku yang akan dibersamai dengan beberapa kaum hawa. Bayangkan saja betapa hausnya diri ini mendaki bersama kaum hawa. Bahkan sejak pendakian pertama samapi yang terakhir kali. Tak pernah sama sekali dibarengi bersama kaum hawa tersebut.

Maka, sekali kali mendaki dengan kaum hawa ini. Bagaimana rasanya, dan bagaimana tantangannya. Huh, ini adalah momen yang tidak boleh dilewatkan. Putusan jatuh, dan kami siap berangkat dari jogja dengan jumlah delapan orang. Lima orang berkalamin laki laki dan sisanya berkelamin wanita. Tidak ada yang ganda, apalagi ganda campuran.

Berangkat menggunakan kendaraan roda dua alias motor menuju basecamp Kledung. Karena pendakian kali ini kami akan menggunakan jalur tersebut sebagai jalur yang dipilih. Sebab jalur tersebut juga adalah jalur komersil yang banyak dipilih pendaki ketika akan melakukan pendakian di gunung Sindoro.

Berjalan di atas motor selama tiga jam dan tak kunjung juga sampai pada basecamp tersebut. Padahal ketika pertama kali mendaki ke gunung sindoro dengan jalur yang sama. Waktu selama itu kami sudah sampai di basecamp. Dan sekarang kami tak kunjung sampai pada tujuan. Rasa rasanya ada yang salah dengan jalan yang kami lewati selama ini.

Dan benar saja dugaan kami. Kami salah jalan selama ini, pantasan saja tak kunjung sampai pada tujuan. Yang menunjukkan jalan alias yang pegang map ternyata mengambil jalur mobil, sehingga kami harus berjalan pada jalur utama. Padahal jika mengambil jalur motor sudah dapat dikatakan kami akan sampai pada waktu tempuh dua jam setengah saja.

Kamipun melanjutkan perjalanan dengan menggunakan jalur motor yang ada pada map tersebut. Teknologi selalu saja memudahkan kita. Mau kemanapun tidak usah takut akan tersesat. Benar benar memudahkan, tapi tidak dengan hidup yang ruyam ini.

Namun setelah meneruskan perjalanan, keanehan kembali merayapi kami semua. Semakin jalan masuk kepedesaan semakin menanjak saja jalanannya. Seolah kami sedang dibawa pada jalur pendakian. Sebab jalan yang kami lewati adalah bebatuan dan kerikil kecil. Belum lagi petani yang sedang menggarap kebunnya disekitar jalanan tersebut. Ah, perasaanku semakin tidak enak saja. Tetapi kami terus berjalan dan tak menghiraukan ini, sebab sudah terlalu lama kami dijalan.

Semakin berjalan kedepan semakin meninggi saja jalanannya. Setelah sampai pada ujung yang buntu disana kami menemukan tulisan pos satu. Aduh, sepertinya kita sudah benar benar mauk kedalam jalur pendakian. Namun yang ada dalam map tersebut menunjukkan arah yang benar, gunung sindoro. Ah, ada yang salah dengan ini semua. Setelah di cek ternyata benar adanya. Via Kledung ada dibalik gunung ini, dan bukan pada jalur ini. kami benar benar salah jalan, sedang matahari sudah meninggi di atas. Hampir rata dengan ujung kepala manusia.

Pada akhirnya kamipun menuruni jalan itu kembali dan memutar balik menuju jalur Kledung yang ada dibalik gunung ini. benar benar sial dan kurang diridoi perjalan kali ini. entah mengapa dan kenapa. Tidak ada kata berhenti lagi, kami harus secepatnya menuju basecamp. Sebab waktu kami sudah banyak tersita diperjalanan ini.

Akhirnya sampai juga kami pada tujuan yang benar. Tidak ada lagi kesalahan untuk kali ini. kami sudah banyak belajar dari kebohongan yang ada selama ini. kebohongan atau kebodohan kami, entahlah.

Ternyata pada hari pendakian tersebut sangat ramai dengan pendaki lain. Parkiran penuh dengan kendaraan roda dua. Untungnya motor kami masih bisa parker ditempat itu. tak mau berlama lama. Kamipun mengurusi simaksi pendakian. Dikarenakan antrian yang panjang, kamipun sedikit mengala dengan hal itu. duduk sejenak, mengistirahatkan kaki kaki yang kaku ini.

Tiba tiba saja datang kabar yang tak sedap dan tak pernah kami inginkan dari petugas GRASINDO. Katanya gunung sindoro mengalami kebakaran diatas dan ditemukan beberapa titik api. Oleh karena itu semua pendaki yang telah siap untuk mendaki disarankan untuk ke gunung lain saja. Bukan hanya jalur ini saja yang ditutup, tetapi semua jalur yang ada di gunung sindoro ini ditutup atas koordinasi.

Tak mau mengambil resiko tersebut. Kamipun memutuskan untuk ke gunung lain. Tapi kami masih bingung hendak ke gunung mana. Setelah mencek gunung yang dekat dengan gunung sindoro kami menemukan beberapa opini untuk pendakian lain. Yaitu gunung Sumbing yang berada di seberang sana dan gunung Kembang.

Hah? Gunung Kembang? Pertanyaan itu tiba tiba saja muncul dalam benakku. Gunung apa itu, sepertinya baru mendengar dengan nama gunung tersebut. Ternyata setelah melakukan penelusuran di google. Gunung tersebut berada di bawah gunung sindoro alias anak gunung dari gunung sindoro. Gunung tersebut terbilang baru dan baru dibuka april 2018 lalu. Sedangkan pendakian kami terjadi pada waktu agustus 2018. Baru beberapa bulan. Pantasan saja namanya masih asing ditelinga kami dengan gunung ini.

Tak berlama lama, kamipun langsung membela jalanan menuju basecamp Blembem. Dan pada waktu tersebut, jalur yang resmi hanya jalur via Blembem. Benar benar baru, terbukti ketika sampai pada basecamp itu. keasrian sekitar masih terjaga. Dan kata penjaga disana kami yang datang ini termasuk kedalam 100 pendaki pertama gunung Kembang.

Setelah melakukan segala kebutuhan pendakian. Kami segera meluncur menapaki jalur gunung Kembang ini. beberapa dari kami merasa senang, sebab tinggi dari gunung ini terbilang lebih rendah dari gunung sindoro. Mereka ini adalah orang orang yang baru pertama kali melakukan pendakian, terlebih mereka ini adalah kaum hawa.

Pada pukul tiga sore kaki kaki dari kami telah menapaki jalur yang masih harum dengan rasa baru itu. ini adalah jalur yang benar benar baru. Disetiap awal masuk kedalam ini aroma yang berbeda dari beberapa gunung sebelumnya. Penuh dengan aroma alam yang masih sangat segar. Layaknya perawan dengan Kamasutra tipisnya. Membuat bergairah. Siapa saja akan ikut terpesona dengan apa yang kami rasakan ini.


Instagram @ukiwardoyo


Ketika masuk jalur pertama hingga memasuki kandang babi, pendaki akan disuguhkan dengan pemandangan kebun teh yang menghijau dan rindangnya. Membuat mata dan kamera tak mau berhenti memotret. Karea pendakin kami ini masih terbilang sangat baru, beberapa jalurnya diberikan tanda, agar pendaki tahu mana jalur yang menuju pada puncak dengan benar. Sebab pada jalur perkebunan the ini banyak cabang jalan. Sehingga akan membingungkan jika tidak diberi tanda dengan pita dan bendera kecil yang di ikat pada sekitar kebun teh tersebut.

Kulihati dan kupandangi kaum hawa ini yang mendaki bersama kami. Mereka terbilang cukup tangguh dan kuat sampai saat ini. hingga berjalan sejam sampai pada kandang babi ini, mereka masih kuat berjalan tanpa mengeluh apapun itu bentuknya. Nafas merea juga teratur, tidak memperlihatkan keuslitasn selama berjalan ini.

Syukurah jika seperti ini. semuanya akan baik baik saja. Perjalanan terus dilanjutkan menyusuri rerimbunan pohon yang dipenuhi lumut kayu dengan vegetasi sekiarnya yang masih sangat tinggi. Jalurnyapun terbilang masih sangat sempit. Memang, gunung ini benar benar baru bagiku. Bahkan semuanya akan beranggapan yang sama.

Semakin berjalan jauh menapaki jalur menuju puncak, hari mulai gelap ditelan oleh malam. Akhirnya jalur yang kami lewati sekarang terbungkus oleh gelap. Lalu senter masing masing dari kami mulai dinyalakan sebagai penerangan tentunya, bukan untuk pencerahan.

Kami akan mendirikan tenda di atas puncak gunung ini, sebab diatas sana menurut informasi yang diberikan petugas memang untuk pendirian tenda, tidak boleh mendirikan tenda ditengah jalur. Dikarenakan beberapa faktor yang tidak bisa mereka jelaskan pada kami.

Datangnya malam, begitu juga dengan dingin. Dingin itu menyusupi kulit kami yang sedang bersembunyi takut melalui jaket yang dikenakan. Tapi sayang, persembunyian itu sia sia saja, tak berguna sama sekali. Dingin terus menembus hingga ke pori pori kulit kami. Dingin sekali mala mini.
Setelah berjalan selama tiga jam menyusuri hutan rindang dibawah sana, akhirnya malam mempertemukan kami dengan puncak yang kami tuju mala mini. Beberapa tenda para pendaki yang lebih dulu dari kami sudah mendirikan tenda. Tak mau berlama terserag dingin oleh angin malam di atas puncak gunung Kembang ini, kamipun menyegerakan mendirikan tenda kami juga. Kagetnya, sebelum mendirikan tenda. Beberapa tikus sempat bermunculan. Ah, membuat kami kaget saja. Baru kali ini saya pribadi melihat tikus di atas puncak gunung seperti ini. apa mereka tidak merasakan dingin yang amat sangat.

Masak selesa, begitu juga dengan proses makan mala mini. Sesegera mungkin kami menidurkan diri didala tenda yang terbagi menjadi dua tenda. Tenda pertama buat kami berlima; kaum adam. Sedang yang lain untuk mereka; kaum yang dimuliakan itu. walau sebelum tidur itu kami sempat bergurau yang tidak jelas kemana ngawurnya.

Cepat sekali malam bepergian dari kami.

Lalu setelahnya terbitlah sesuatu yang sanat indah, sesuatu yang sangat kami nantikan. Percikan sinar mentari pagi itu dengan warna indahnya membuat mata kami terbangun dengan sendirinya, entah mengapa bisa seperti itu. seolah olah mata kami dibuat takjub dan tak mau membiarkannya pergi begitu saja.

Tapi, semuanya berubah seketika ketika badai itu datang menerpa tenda kami. Ya, tenda kami dihempas habis oleh badai itu. kulihati tenda itu melayang dan hampir roboh, walau pada akhirnya roboh juga. Sedang yang lain masih asyik dan sibuk dengan pengabadian momen masing masing. Tak ada lagi yang peduli dengan tenda itu, melirikpun tidak. Mereka terlalu sibuk dengan asmaranya masing masing.

Kali ini, saya menjadi tahu dengan kalimat yang pernah say abaca sebelumnya “Jika kamu ingin melihat sifat asli seseorang maka ajaklah dia mendaki gunung.” Kalimat it uterus meletup pada kupingku, bukan saja sampai pada kupingku. Melainka sudah mengganggu pikiranku pagi ini.

Akhirnya tenda tenda itu kucumbui dan kurapikan dengan semampuku tanpa memdulikan apa yang mereka lakukan. Padahal sudah kukatakan jika tenda roboh akibat badai yang menerpa. Namun mereka masih saja memotret diri, entah sudah jepretan keberapa itu.

Dengan sabar hati, tenda itu kuperbaiki dengan diri sendiri. Walau setelahnya salah satu diantara mereka sadar dengan apa yang dilihatinya. Naluri manusianya masih berpikir dengan hal ini. syukurlah masih ada yang membantu. Sejak saat itu, hatiku selalu dibuat resah dengan sifat manusia yang sebenarnya. Ternyata terlalu banyak drama yang dibuat buat dibawa sana. Gunung memang menjadi tempat salah satu tempat untuk menempah manusia untuk menjadi manusia yang sebenar benarnya.

Pada saat turun dari gunung ini. saya disadarkan pada satu hal. Yaitu akan pentingnya menjadi manusia perasa dengan kondisi sosial. Tidak harus menjadi apa yang terbaik untuk manusia lain, cukup sadar bahwa yang kita lakukan tidak mengganggu manusia lainnya. Itu lebih dari cukup.

Share:

1 komentar :

  1. woww kereen, you re strong sist... kapan summit bareng nihh

    BalasHapus

Makan Nasi Pecel Di Warung Tertinggi Indonesia Milik Mbok Yem

Gunung Lawu Sepertinya makan di warung warung pingir jalan sudah biasa, sudahkah kamu mencicipi makanan di gunung? Pastinya memiliki rasa da...

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes