Gunung Mongkrang, Tidak Pernah Utuh | Jurnal #11 - Sajak Aksara

Gunung Mongkrang, Tidak Pernah Utuh | Jurnal #11


Instagram @Gunungmongkrang

“Pohon pohon yang kehilangan akarnya akan segera roboh dan termakan rayap akibatnya, tidak ada didunia ini yang sanggup hidup sendirian. Ada banyak unsur yang membantu proses kehidupan hingga kerakusan muncul dengan sendirinya.”

            Beberapa anggapan manusia tentang manusia lainya terkadang membuat halusinasi yang meninggi dari manusia lainnya. Tidak pernah merasa untuk tersaingin oleh manusia lainya. Selalu merasa paling lebih dari yang lain. Padahal sama sama berasal dari Rahim manusia yang lumuri oleh dosa.

            Seakan tak mau berhenti bergerak jauh, kaki kaki merasa untuk diadu kembali dengan tanjakan. Akhirnya diputuskan untuk menganulir gunung mongkrang. Buat kalian yang belum tahu dengan gunung yang satu ini akan diperkenalkan. Tapi, sedikit saja.

            Gunung ini berada tepat disebelah gunung lawu dengan ketinggian 2194 MDPL. Bentukannya seperti gunung kembang yang berada tepat disamping gunung sindoro. Dengan kata lain anakan dari gunung lawu. Walau begitu, pesona dan tantangan yang diberikan tidak akan kalah dengan gunung gunung yang lain.

            Berawal dari cerita teman yang pernah kesana, hasrta dan rasa penasaranpu mulai membatin untuk segera menjamahinya sesegera mungkin. Dan jatuhlah temponya dimana perencanaan beberapa minggu setelahnya. Dan pendakian ini adalah pendakian penutup, sebelum masuk pada tahun yang baru.

Akhir Desember 2019.

            Personil pada perjalanan kali ini berjumlah lima orang. Dan ini membuat salah satu dari kami harus ada yang menyendiri untuk mengendarai roda dua dari Jogja menuju Tawangmangu. Berangkat siang dan baru sampai setelah isya berkumandang. Keterlambatan tersebut diakibatkan hujan deras yang melanda di tengah jalan. Dan itu mengharuskan untuk rehat sejenak di perjalanan.

            Seperti pada jurnal jurnal sebelumnya, tidak ada penjelasan mengenai biaya dan simaksi masuk kedalam gunung. Ini sengaja memang, sebab jurnal ini hanya akan berisi cerita cerita garing. Akan ada sebuah kalimat yang menguraikan ini semua.

            Sebelum memulai menapaki jalur yang mulai gelap didepan sana, kami mengisi perut terlebih dahulu diwarung dekat jalur pendakian. Dengan hanya berterangkan lampu ponsel, langkah kaki kami mulai menyusuri jalan setapak yang basah dan lembab ini. Sepertinya sangat ramai di tempat ini, ada banyak sekali pendaki yang berlalu lalang. Bahkan ada beberapa SISPALA yang melakukan pelatihan di kaki gunung ini.

Setelah masuk kedalam jalurnya, ternyata memang tanjakan yang diberikan lumayan menyengat betis dari kami. Apalagi Ami, lelaki yang baru mendaki bersama kami. Terlihat mulai sedu dengan nafasnya sendiri. Padahal sedari tadi mengejek bahwa gunung cuman segini saja. Namun semua yang dikatakannya tentang gunung tak ada bedanya itu. Kini, mulai dirasainya sebuah penyesalan akibat perkataannya tersebut. Kaki dan nafas mulai dihardik oleh jalan menanjak ddidepan sana. Sungguh membuatnya mengakui semua salah salah kata yang barusan terucap olehnya.

            Dasar manusia, selalu saja meremehkan sesuatu. Walau gelap begini, rasa rasanya ramai sekali. Bagaiaman tidak, sepanjang perjalanan kami disibukkan dengan menyapa pendaki lain yang sedang berusaha mencapai puncak juga.

            Karena titik kluminasi gunung ini terbilang rendah, maka pendirian tenda ada dipuncaknya. Sama halnya dengan gunung Andong, Kembang dan beberapa gunung lainnya. Ini membuat kami berempat harus terus menyemangati Ami agar sampai puncak. Karena memang tidak ada camping ground yang cukup untuk tenda kami.

            Setelah berjalan sepanjang tiga jam di menapaki jalur gunung mongkrang. Akhirnya tenda tenda yang terususun rapi terpandang oleh mata kami. Rasa senang dan juga bahagia akhirnya menyelimuti kami. Terlebih lagi Ami yang baru pertama kali ini mendaki gunung.

            Tak mau berlama diluar yang semakin dingin, tendapun didirikan dan gerimis mulai luluh dari atas sana. Menggerutui tenda kami dari luar. Karena rasa lelah sepanjang perjalanan dari kota Jogja, membuat kami berlima kantuk dan menyegerakan diri tidur. Tapi sayangnya rasa dingin selalu saja menjadi lawan untuk tidur. Dan pada akhirnya tidur tidak begitu nyenyak akibat dingin yang terus terusan menusuk tubuh kami.

            Sepagi ini tenda kubuka dan hanya ada tembok putih saja yang ada, jarak pandang terbatas sampai sepuluh meter. Kabut tebal itu telah menutupi sesuatu dibalik puncak gunung mongkrang. Membuat kami haru menunggu hingga kabut tersebut pergi dan menjauh dari tenda kami.

            Tak perlu waktu lama untuk itu, sejenak mata dibuat takjub lagi dengan apa yang dilihatinya. Hamparan bukit yang indah berada tepat disamping gunung ini dengan latar gunung lawu tang berdiri kokoh disana. Dan ini membuat Ami mulai tak selalu utuh pada apa yang dijalaninya, ternyata diluar ini ada hal yang selalu menunggu untuk dijabatangani. Sungguh indah memang. Tak ada yang bisa membuat hal ini kecuali sang kuasa.

            Semua yang ada benar benar dibuat tak utuh. Seakan semuanya perlu menyatu pada keberagaman bentuk demia sebuah keindahan yang utuh. Sebuah anugerah yang diberikan pada dunia ini sungguh membuat manusia dibutkan dengan syahwat dan nafsu.

            Kopi selalu saja menjadi minuman pasti dan selalu ada disetiap pendakian. Dan menjadi sesuatu yang wajib ada. Setelah beberapa gelas dihabisi dan melakukan ritual eksistensi, kamipun menyegerakan turun, takutnya hujan akan lebih dulu membasahi kami.

            Dan benar saja, setelah sampai pada warung yang dekat dengan parkiran, hujan mulai membubuhi diri keatas bumi. Di gunung mogkrang belum ada basecamp, sehingga kami hanya bisa bertedu pada warung tadi. Hingga hujan reda, dengan itu pula jejak kami tinggalkan dan lekas menuju kota jogja untuk kembali.


Share:

Posting Komentar

Makan Nasi Pecel Di Warung Tertinggi Indonesia Milik Mbok Yem

Gunung Lawu Sepertinya makan di warung warung pingir jalan sudah biasa, sudahkah kamu mencicipi makanan di gunung? Pastinya memiliki rasa da...

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes