Gunung Ungaran, Pendakian Horor | Jurnal #10 - Sajak Aksara

Gunung Ungaran, Pendakian Horor | Jurnal #10

Pemandangan yang indah berada tepat dibawah puncak gunung Ungaran
Instagram @ismanBayu


mereka benar benar ada dan selalu ada hingga manusia tahu jika mereka akan punah ketika manusia puncah juga. Memaki diri sendiri ditengah gelap malam adalah hal terkonyol yang tersisa pada jiwa jiwa yang sedang digerayapi ketakutan”.

Meniadakian hari tanpa rumah dengan orang orang yang terkasih didalamnya. Tepatnya, ketika orang orang lain melakukan liburan semester yang Panjang ini, sedang jiwa tak mau lagi tersentuh oleh liburan rumah. Entah mengapa, biaya dan beberapa gugatan lain yang menyibak masuk kedalam hati adalah salah satu alasan mengapa hal ini terjadi.

Tak utuhnya sebagai mahasiswa lain yang bercengkrama Bahagia dan senyum mesra Bersama keluarga, sedang mata kanan dan kiri pada kepala ini masih saja menempuh jarak yang tak kasat mata didepan sana. Bergelut dengan ambisi yang tak bertujuan sama sekali. Sebentar lagi akan hancur ketika rindu mulai membasuh seluruh tubuh pada kejauhan pada pelukan ibu. Sungguh, tak mau diri ini melakukannya.

Januari 2019.

Bayu, odi yang merupakan dua bersaudara yang tak pernah akur adalah orang yang membersamaiku kali ini ke gunung yang kami rencanakan Bersama untuk mengisi liburan yang Panjang ini. Sekalian ke kota semarang. Tempat dimana Yusta bersemayam dengan impiannya disana.

Kami mengajak serta Yusta untuk ikut dalam pendakian kami. Sebab dirinyalah yang lebih tahu menahu mengenai seluk beluk pada gunung ungaran. Sebab dirinya adalah seorang Mapala di kampusnya dan penah melakukan kegiatan pelatihan di gunung tersebut. Dan ini cocok sekali apabila Yusta yang menjadi pengantar kami dalam pendakian ini. Dirinya memang menyimpan banyak manfaat utuk kami gunakan.

Berangkat dari kos kosan kecil dan panas milik Yusta di kota semarang menuju pos pendakian gunung Ungaran. Dan yusta bersamaku untuk membela jalan menuju tempat tersebut. Namun ditengah jalan kami di guyur hujan yang teramat lebat dan menyengat badan hingga basah kuyup, tidak, hamper saja.

Waktu kami menjadi terpotong karena harus menunggui hujan ini reda. Tak berlama lama dengan penantian yang tak pasti pada hujan tersebut, kamipun memaksakan diri berangkat dengan mantel hujan yang baru terbeli di salah satu toko alfamart. Tiba tiba saja masalah baru muncul lagi, ditengah hujan yang masih menderas turun, motor Bayu mogok dan tidak bisa lagi jalan. Untungnya didepan sana ada bengkel kendaraan.

Semakin tersita saja waktu kami diperjalanan akibat ketidakmatangan dalam perjalanan ini. Tidak adanya persiapan yang begitu sempurna. Ah, tidak ada yang sempurna didunia ini termasuk perjalanan kami.

Akhirnya, perjalanan kembali dilanjutkan dengan gerimis yang masih saja tak mau berdamai dengan kami berempat. Semakin masuk kejalan menuju basecamp yang ditujukan Yusta pada kami, semakin kami bingun dan kurang percaya dengan ini. Bagaimana tidak, jalan yang kami susuri semakin rusak dengan bebatuan besar dan penanjakan tiada hentinya. Hingga motor menjadi kewalahan. Tapi untungnya tidak ada dari dua motor kami yang menyerahkan diri.

Mentari sudah habis ditebas temaram, kabut yang cukup tebal menghalangi jalan kami.ini membuatku semakin ragu ragu dengan jalan yang ditunjukkan Yusta. Sesekali bertanya padanya. Dan jawabannya adalah memang sudah betul jalan yang kami lewati ini. Dan memang seperti ini. Jika benar seperti itu, maka sungguh seram sekali orang orang yang melewati jalan ini. Jalan yang rusak dan gelap seperti ini sepertinya akan mematikan akal sehatku ketika berjalan sendirian disini.

Sejam menapaki jalur tersebut, dan didepan kami adalah rumah warga. Dan betapa terkejutnya kami bertiga ketika melihat ada perumahan warga disini. Ini benar benar sangat menakjubkan. Sungguh.

Dingin menyambut, dan segera mungkin perut diisi dengan makanan hangat dan nikmat. Itu adalah indomi rebus yang kami beli dari basecamp. Dan ternyata tempat ini tidak banyak yang melewatinya. Hanya mereka yang tahu pada tempat ini. Kata Yusta tempat tersebut adalah tempat yang sering digunakan dalam kegiatan Mapala kampusnya.

Perut telah terisi dan perjalanan kami lanjutkan segera. Meski gerimis dan dingin masih saja menunggui diluar sana. Hanya ada senter HP yang kami miliki, dan hanya Yusta yang benar benar menggunakan senter gunung.

Dan lihatlah ketika kami mulai meninggalkan perumahan warga tersebut. Ketika kaki semakin jauh dari keramaian tadi. Seketika sekujur tubuhku menjadi mencekam dan tumbuh kegelisahan. Entah dari mana kegelisahan itu dating. Ditengah kabut yang bergerimis kami menapaki jalur yang amat kecil dan bersemak. Ini tidak seperti jalur komersil pendakian pada umumnya. Setelah melakukan konfirmasi pada Yusta bahwa jalur ini adalah jalur yang digunakan oleh anak anak Mapala dalam pelatihan. Waduh, pantas saja jalurnya masih segar seperti ini.

Berjalan paling terbelakang dari berempat membuatku semakin digaduhi oleh perasaan aneh dan tak biasanya pada gunung gunung lain. Semakin berjalan masuk kedalam hutan yang gelap ini semakin membuatku merasakan hal aneh. Bukan ingin mendustai diri sendiri, tapi memang rasanya sangat berbeda ketika sudah masuk dalam pada jalur ini. Sesak dan rasanya takut sekali untuk menoleh kebelakang.

Bayang bayang ketakutan semakin menjadi saja manakala tas yang kubawa terserempet oleh ranting pohon. Kaget dan sekaget kagetnya, walau suasana itu kusembuyinkan dari yang lain. Entah hanya aku saja yang merasakannya atau mereka juga merasakan yang sama. Tapi sepertinya mereka merasakan hal yang sama.

Setelah berjalan hampir sejam, Yusta mulai ragu dengan jalur yang dilewati. Dirinya mulai ragvu jika jalur yang kami leweati adalah jalur yang salah. Ah, semakin membuatku takut dan gelisah saja. Setelah menelusuri lagi, perjalanan tetatp kami lanjutkan. Betapa takutnya diri ini jika sesuatu menerjangku dari belakang. Dan tidak akan ada yang tahu jika mereka tak menoleh sama sekali kebelakang.

Tak mau terjebak dalam ketakutan. Music kuputar keras keras dalam earphone yang kubawa sendiri. Berusaha menikmati lagu didalamnya walau rasa takut masih saja mengikuti. Rasa rasanya sesuatu mengikuti dari belakang sejak masuk kedalam jalur yang gelap dan dipenuhi pohon pohon tinggi. Mata harus tetap terfokus pada jalur saja, tak mau menoleh pada arah yang lain.

Jujur ini adalah pendakian tergila yang dianulir oleh Yusta.

Takut dan gelisah mulai mereda manakala kami berhasil masuk pada jalur yang lebih besar dan leluasa untuk bergerak. Tidak seperti jalur yang tadi, sangat rimbun dan dipenuhi semak belukar. Pergerakan amat sangat terbatasi dengan hal itu.

Tiba tiba saja sesuatu membuatku kaget. Bukan rasa takut namun rasa takjub ketika melihat tiang listrik berada tepat ditengah hutan seperti ini. Bagaimana bisa mereka mengangkat dan membawa tiang tiang besar itu kesini. Seperti hal yang sangat mustahil untuk dilakukan.

Odi tersedak dan terdengal oleh nafasnya sendiri. Wajar saja, ini adalah pendakian pertamanya. Kulihati lututnya yang bergetar tanda bahwa dirinya benar benar kelelahan. Tak berapa lama kemudian, rumah rumah yang diterangi oleh lampu membuatku kami bertiga kembali di kejutkan. Ada banyak rumah dibawah puncak Gunung ungaran seperti ini. Dan Yusta menunjuk pada puncak yang terbilang sudah sangat dekat.

Pantas saja tidak perlu membawa tenda kesini, ternyata kami akan bermalam di rumah yang cukup besar untuk kami tinggali. Dan rumah tersebut adalah tempat peristirahatan anak anak Mapala yang melakukan pelatihan disini. Bahagia sekali tidurku digunung kali ini. Walau hujan deras tak akan membuat resah untuk memikirkan tenda yang akan dibasahi oleh air hujan.

Paginya, kami harus melanjutkan perjalanan menuju puncak. Tapi Yusta tidak ikut sampai puncak. Dirinya hanya menunjukkan kami jalur mana yang mesti kami lewati untuk menuju pncak.

Dengan berjalan selama hampir dua jam, kamipun sampai pada puncak gunung Ungaran. Walau mata kami digelisahkan dengan kabut yang amat tebal. Tidak ada pemandangan yang terlihat. Hanya ada dingin yang terus berusaha menembus badan kami. Setelah menunggu beberapa lama, kabut hilang dan hal indahpun dipertontonkan pada kami semua yang ada dipuncak ini.

Tak mau berlama lama diatas, sesegera mungkin kami turun. Takutnya hujan akan mengguyur dengan cepat. Dan seketika kami turun, kabutpun ikut bersemayam pada puncak. Sesampai kembali pada tempat Yusta; rumah yang berada tepat dibawah puncak gunung Ungaran, kami disusguhkan dengan makanan dan gorengan yang masih hangat. Ah, betapa indahnya pendakian kali ini. Tapi semua makanan tersebut adalah jualan milik ibu yang ada dirumah tersebut. Walau begitu, rasanya tak kalah dengan warung yang ada dibawah sana. Bahkan rasanya menjadi lebih nikmat ketika berada tepat dibawah puncak gunung Ungaran.

Setelah semuanya selesai dengan itu. Dari mandi dengan air yang teramat dingin hingga memandangi sekitar yang masih hijau. Kamipun segera turun. Dan seketika itu pikiranku kembali disemayami oleh jalur yang dilewati semalam. Ternyata jalur yang kami lewati untuk turun tidak sama dengan jalur ketika naik. Dan tetap saja sama, jalurnya tidak berbentuk sama sekali. Hanya dirinya saja yang tahu akan jalur yang kami lewati.

Memang tidak ada penyesalan, si anak rimba ini membawa kami pada sungai di lembah gunung ungaran. Segar sekali rasanya. Semua menjadi satu kepuasan yang sempurna dalam pendakian ini.

Dan ketika jalan pulang, kami haru melewati kembali jalur yang dipenuhi dengan bebatuan besar itu. Sungguh sangat menyiksa pada kendaraan. Tidak sampai disitu saja drama perjalanan kami. Setelah masuk pada perkotaan, motor si gendut Bayu kembali mogok dan harus dibawa pada bengkel. Dan kembali lagi kami di untungkan, bengkel tidak terlalu jauh dari jarak kami berada. Perjalanan pulang kembali tersita oleh waktu untuk menunggui motor tersebut.

Sesampai di kosan yusta barulah semuanya mengeluarkan apa yang mereka rasakan ketika menapaki jalur gunung Ungaran tersebut. Malam itu ternyata mereka merasakan takut dan gelisah yang sama. Bahkan mereka merasakan takut yang teramat sangat. Terlebih lagi yang bernama Odi. Sebab dirinya merasakan bahwa sesuatu menempel pada tas yang kubawa. Untung saja ceritanya baru disini. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi.

Satu pesan, jangan pernah bercerita hal aneh apapun ketika berada digunung. Karena itu akan merusak suasana pendakian. Dan akhirnya semua dikelabui oleh pikiran negatif masing masing.

Share:

Posting Komentar

Makan Nasi Pecel Di Warung Tertinggi Indonesia Milik Mbok Yem

Gunung Lawu Sepertinya makan di warung warung pingir jalan sudah biasa, sudahkah kamu mencicipi makanan di gunung? Pastinya memiliki rasa da...

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes