Kembara | Bagian Ketiga - Sajak Aksara

Kembara | Bagian Ketiga

Pengembaraan Menuju Telaga


Juni Bersemi


Terlalu semangat untuk menemani hidup dengan cita cita setinggi langit, ketika jatuh dari langit, bintang pun akan terpecah belah menjadi butiran debu. Apa saja dilakukan demi keinginan jiwa, padahal tubuh dan hati merintih untuk pergi dan meninggalkan. Terlalu banyak porsi tenaga yang dikeluarkan di awal perjalanan.


Burung mengicau di pagi raya, sebelum mengitari langit dengan suka hati lalu membuang kotoran di atas tanah kering dan kusam. Saat itu juga hujan bulan juni mengguyur tanah kering dengan tangis yang akan membasahinya. Serabut dari akar pohon cemara menangis bahagia. Tanah tanah kembali berteman baik dengan humus dan cacing. Suka duka sedang mengitarinya.


Tidak ada yang tertinggal, antara keinginan dan harapan. Hanya pencapaian terhadap asa yang selalu membalik dan menampar wajah di pagi muram. Saat diri tersadar jika bayang bayang pembaringan telah termanipulasi. Mata sayu tak menatap apa apa, kembali berbaring sebelum burung burung mengitari atap rumah. Tak ada takut sama sekali.


Bibir gelas diatas meja basah di sodori bibir manusia yang sering mencaci tentang datangnya gerimis hujan bulan juni. Tidak, manusia juga terkadang mengutuk kehadirannya. Makian dan cercaan tertumpuk di lidah yang tak bertulang. Ah, rasanya seperti sedang memakan bubur milik nenek, tak terasa di lidah. Tapi begitu terasa di dalam perut.


Ketiga musim sudah bepergian meninggalkan luka. Juni tetap ada di samping manakala kecemburuan muncul di taman kota. Genggaman tangan anak kecil yang berlari ditaman bersama ibunya membuat mata dan hati tersayat sakit. Guguran air mata jatuh, walau bergelimang didalam bola mata. Tak sempat jatuh sesaat setelah mengingat bahwa juni sedang bersemi bulan ini.


Tidak ada lagi dusta, luka, dan ocehan dari yang lain. Hanya ada segumpal rindu didalam jiwa yang sedang merintih meminta pertemuan. Tapi waktu terus memaksa tak ingin, begitu juga dengan tubuh. Tenang, tak bisa tenang sama sekali. Berpengaruh apalagi. Sudah terbunuh di makan waktu. Banyak sekali duri yang tumbuh selama ini.


Menuju jalan panjang, 12 Juli 2020.


Share:

Posting Komentar

Makan Nasi Pecel Di Warung Tertinggi Indonesia Milik Mbok Yem

Gunung Lawu Sepertinya makan di warung warung pingir jalan sudah biasa, sudahkah kamu mencicipi makanan di gunung? Pastinya memiliki rasa da...

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes