Kembara | Bagian Pertama - Sajak Aksara

Kembara | Bagian Pertama

Pengembaraan Menuju Telaga



Juni Membiru


Tepat sebelum matahari terbit di ujung barat, juni sudah terburu-buru datang menyambut tawa di atas permukaan bumi, pada pelataran anak anak adam. Warna dari langit tidak lagi sekuning senja. Taman tak mau menatap, seolah malu dengan kedatangan Juni.


Bising bising kota tak pernah di dapatkan di halaman kampung. Tempat melampiaskan masa kecil dengan sempurna, tak ada cacat sama sekali. Kecuali, mata mata dari setiap anak mulai menatap layar kosong yang tak pernah nyata. Kepalsuan ada di tepi kota, jika masuk kedalam akan ditemukan beberapa bait kapital.


Terlalu banyak definisi yang diberikan pada anak anak desa. Kuno katanya, seperti mata buta sedang meraba telinga gajah di belantara hutan. Mereka tidak akan mengerti sama sekali tentang kesederhanaan di tengah tengah senyum sederhana. Raja raja akan kebingungan ketika diperlihatkan dengan lumpur kotor dan senyum secara bersamaan, loginya tak masuk sama sekali.


Sepenggal nasihat dari ayah terpegang teguh sampai saat ini. Tidak ada perbedaan di antara manusia, hanya ada pembualan terhadap batasan dan kasta yang dibuat oleh manusia sendiri. Kata ayah, burung merpati tak akan pernah terganggu dengan macan di bawah sana ketika ia masih mampu terbang tinggi. Saat itu juga, semua kepala manusia berfikir setengah gila perihal nasihat ayah.


Kembali lagi dengan Juni yang datang membara ketika hati digeluti oleh rasa penasaran pada musim penghujan. Lalu Sapardi mulai merajut bait bulan juni dengan gerimis sampai saat ini, tak kunjung selesai. Pun dengan harapan yang berusaha digapai anak anak manusia. Semuanya tak selalu yang di inginkan.


Baiklah, kaki di tubuh siap melangkah maju melewati rimba yang amat dalam di depan sana. Entah rintangan seperti apa yang akan didapatkan. Yang pasti, Juni tak pernah jauh dari kerumunan hujan yang membasahi tubuh, badai siap menerpa kapan saja. Tak ada satupun orang yang akurat dalam menerka tentang cuaca di langit. Payung tak akan cukup untuk berteduh dari petir, maka persiapan harus terus dipersiapkan. Biar saja hati menjadi gelisah.


Menuju jalan panjang, Juni 2020.


Share:

Posting Komentar

Makan Nasi Pecel Di Warung Tertinggi Indonesia Milik Mbok Yem

Gunung Lawu Sepertinya makan di warung warung pingir jalan sudah biasa, sudahkah kamu mencicipi makanan di gunung? Pastinya memiliki rasa da...

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes