Bercumbu Dengan Buku di Ranjang Pandir - Sajak Aksara

Bercumbu Dengan Buku di Ranjang Pandir

 

Bercumbu Dengan Buku di Ranjang Pandir

Membaca buku bagi saya bukan sekadar aktivitas, melainkan sebuah tindakan intim. Ia menyerupai sentuhan diam-diam pada tubuh lain yang tak bersuara, namun hidup. Di sela-sela halaman, saya menemukan denyut yang pelan, napas yang teratur, dan bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka yang bersedia melambat. Sementara itu, dunia di sekeliling bergerak dengan riuh, penuh tawa kosong, lelucon murahan, obrolan yang terasa ringan tapi getir, bahkan kerap menjurus amoral.

Di tengah kebisingan itu, buku menjadi tempat saya bersembunyi. Sebuah ruang sunyi yang terasa asing bagi banyak orang. Pengetahuan di mata mereka bukanlah sesuatu yang perlu dirawat, apalagi dicintai. Ia dianggap tidak praktis, tidak menghasilkan “cuan”, atau lebih buruk lagi: dianggap sebagai gaya sok pintar yang tak punya manfaat langsung. Membaca menjadi aktivitas mencurigakan, seolah berpikir terlalu jauh adalah bentuk pembangkangan terhadap rutinitas yang sudah mapan.

Bercumbu dengan buku adalah tindakan sunyi yang sering disalahpahami. Tapi, ia bukan tentang menjadi lebih unggul, melainkan tentang keberanian untuk menyepi di tengah dunia yang menuntut kita selalu hadir secara dangkal.

Baca juga:

Bukan Bodoh, Tapi Dimandulkan

Saya menggunakan kata “pandir” bukan untuk menghina kemampuan biologis seseorang. Mereka bukan bodoh sejak lahir. Kepandiran itu diproduksi, dipelihara, dan diwariskan. Ia tumbuh subur dalam sistem yang menuntut kepatuhan tanpa pertanyaan. Rutinitas yang berulang, hiburan instan yang mematikan rasa ingin tahu, algoritma yang hanya memberi apa yang ingin kita dengar, serta ketakutan untuk berbeda, semuanya bekerja rapi, senyap, dan efektif.

Negara pun, sering kali, ikut berperan. Pendidikan disederhanakan menjadi angka, pengetahuan direduksi menjadi sertifikat, dan berpikir kritis dipersempit agar tidak mengganggu stabilitas. Maka lahirlah manusia-manusia yang tampak hidup, namun jarang benar-benar berpikir.

Mereka bukan tidak mampu berpikir. Mereka hanya tidak pernah diberi waktu atau keberanian untuk merasa bahwa berpikir itu perlu. Dalam dunia yang serba cepat, berpikir pelan dianggap pemborosan. Bertanya dianggap mengganggu. Membaca dianggap membuang waktu. Dan dari situlah kepandiran menemukan rumahnya.

Kesepian Intelektual

Membaca di tengah kerumunan pandir melahirkan perasaan yang ganjil. Di satu sisi, saya merasa lebih sadar. Di sisi lain, saya merasa tidak berguna, bahkan egois. Ada rasa bersalah yang pelan-pelan merayap: membiarkan mereka tidak berpikir, membiarkan otak mereka hanya berputar di sekitar urusan perut dan kelamin, membiarkan hidup berjalan tanpa pernah disentuh pertanyaan.

Intelektualitas, hari ini, justru menjadi beban sosial, sama seperti kata Noam Chomsky. Ia membuat jarak. Referensi yang tak dipahami, kegelisahan yang tak dibagikan, dan kesadaran yang tak menemukan lawan bicara. Saya sering kali merasa asing di lingkungan sendiri, seolah membaca buku adalah dosa kecil yang membuat saya terpisah dari kebersamaan semu.

Ada momen ketika saya ingin menutup buku, ikut tertawa, ikut larut, ikut tumpul. Bukan karena saya setuju, tapi karena lelah menjadi berbeda. Kesepian intelektual bukan sekadar soal tidak punya teman diskusi; ia adalah rasa terasing di tengah keramaian, perasaan bahwa apa yang penting bagi saya tak pernah benar-benar penting bagi mereka.

Namun, pada akhirnya, saya tetap memilih membaca. Bukan karena merasa lebih tinggi, bukan pula karena ingin menjadi yang paling tahu. Jika dunia memilih gaduh dan dangkal, saya memilih bercumbu dengan buku agar tidak ikut mati perlahan. Membaca adalah cara saya bertahan, menjaga agar pikiran tidak sepenuhnya diserahkan pada kebisingan.

Buku bagi saya adalah tempat pulang. Ia bukan alat untuk menghakimi kaum pandir, melainkan cara untuk tetap manusiawi di tengah ketumpulan. Saya tidak berharap semua orang membaca, apalagi berpikir seperti saya. Harapan itu terlalu naif. Yang saya jaga hanyalah satu hal: agar cahaya kecil ini tidak padam.

Baca juga:

Di tengah kamar yang gelap, buku mungkin hanya setitik cahaya lilin. Ia tidak mampu menerangi segalanya. Namun selama ia masih menyala, saya tahu saya belum sepenuhnya menyerah. Dan mungkin, suatu hari, cahaya kecil itu cukup untuk membuat seseorang berhenti sejenak, lalu bertanya, sebelum akhirnya berani berpikir.

Share:

Posting Komentar

Bercumbu Dengan Buku di Ranjang Pandir

  Membaca buku bagi saya bukan sekadar aktivitas, melainkan sebuah tindakan intim. Ia menyerupai sentuhan diam-diam pada tubuh lain yang tak...

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes