Kembara | Bagian Kesembilan - Sajak Aksara

Kembara | Bagian Kesembilan

Puisi dan prosais tentang perjalanan seorang pengembara
Pengembaraan menuju telaga

Musim Yang Sulit (Bait Tambahan)

Perantara dilema dengan jauhnya jarak rahim ibu dan raga, segenap jiwa menepi jauh dari ankara. Panas panas datang menghampiri tubuh yang gelagapan pada kehinaan diri sendiri. Tidak lagi, senyum manis yang membentang sepanjang bibir manis tidak ditemukan lagi. Tersisa dari sisi ego, sebelum matahari terbit dibalik bayang bayang gunung.


Peraduan pada diri sendiri, tanpa sandaran yang kuat. Sedikit terkeok maka jurang dalam dan gelap akan melahap apa apa saja yang masuk ke dalamnya. begitu pula dengan ego ego yang menempel di jiwa anak manusia. Usang dan kering tertempa di tengah gelapnya sunyi. Hampir habis bekal, tepat sebelum pukul tujuh.


Puing puing reruntuhan di bawah rumah tua menjadi abu yang terbakar, sudah abu terbakar pula. Mengasihi diri di tengah perasingan yang jauh dari peluk. Sesuatu tersebut, rumah. Beberapa diantara anak manusia menyebut rumah adalah peluk dari rahim jiwa yang pernah keluar dengan darah di ari ari tali pusar.


Pudar, mata memudar dengan sendirinya ketika titik titik temu tidak pernah dipertemukan sama sekali. Nyanyian paling syahdu dan indah untuk didengar adalah do’a do’a yang di panjatkan ketika malam paling sunyi. Bintang akan menjadi saksi hidup di perandaian yang teramat jauh.


Paling tidak, menjadi manusia paling kecewa sejagat syair Sapardi tidak akan memaafkan bait dari lagu paling populer di masanya. Pelanturan pada kata kata di tengah kalimat yang tersingkir dengan sendirinya. Terbaca Pun tidak, mengerti apalagi. Biarlah mentari tetap berada di porosnya sebelum tertidur pulas dalam lamunan.


Pahit sekali rasanya, bukan makanan yang di maksud. Terlebih lagi dengan rasa mengenai asmara. Tidak, tidak akan pernah ditemukan bait asmara pada kalimat kalimat dusta ini. Serangkaian rasa sakit yang jauh dan peninggalan rumah tuan membuat seluruh hari menjadi kusam, hingga terasa pahit.


Pun, dengan orang orang di tepi kematian. Bibir dan lidah hanya bisa mengangkang lebar selebar lebarnya. Rembulan bersembunyi tuk mencari pengharapan pada pengelana hidup.


Menuju jalan panjang, 18 Juli 2020.


Share:

Posting Komentar

Kembara | Bagian Keduabelas

Pengembaraan menuju telaga Perantara   Jangan sebut nama dari pohon teduh yang meneduhkan dari teriknya sinar matahari, bagian bagian pentin...

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes