Kembara | Bagian Keduabelas - Sajak Aksara

Kembara | Bagian Keduabelas

puisi puisi perjalanan

Pengembaraan menuju telaga

Perantara 

Jangan sebut nama dari pohon teduh yang meneduhkan dari teriknya sinar matahari, bagian bagian penting tidak akan diketahui manusia. Ranting ranting dan daun daun yang hampir putus asa dengan apa yang dikatakan pada syair pemujian pohon. Mereka sudah bercucur keringat bermandikan panas. Walau bertengger pada batang pohon adalah pilihan hidup.


Jangan katakan laut memberikan banyak penghidupan di antara para nelayan dan manusia yang membutuhkan. Tidakkah mereka tahu bahwa ada ribuan makhluk yang hidup di bawah dasar laut. Berbagai sumber hidup didalamnya untuk menghiasi lautan yang teramat luas ketimbang daratan manusia. Karang karang akan pecah dengan sendu garam bertabur perih.


Jangan memanggil hujan kalau hanya meminta penghidupan pada pribadi dan beberapa tanaman di atas muka bumi. Anak anak manusia tidak akan pernah tahu, betapa sulitnya awan awan memanggil sari pati air dari bawah terik matahari menghitamkan mereka. Belum lagi dengan langit yang harus ikhlas dengan warnanya. Apalagi dengan mentari bekerja penuh keikhlasan tanpa pamrih dari manusia.


Tidak akan ada benih bernama manusia dalam gumpalan darah ketika sepasang manusia hanya saling memandang dari kejauhan. Perlu pertemuan intim dan sukarela agar terbentuk jantung dari anak manusia baru. Sesekali tatap lah pada rahim ibu yang sedang mengandung selama sembilan bulan, berat dipikul kemana mana.


Tidak pernah ada sesuatu yang manusia sebut dengan senja ketika tak ada warna kuning kegelapan yang membinari dari wajah matahari. Sebagian anak anak manusia memuji bak dewa yang sedang berlenggok di atas karpet merah milik tuan purnama. Padahal sebentar lagi, mentari akan hancur dan memusnahkan seluruhnya.


Tidak , semua jangan menjadi tidak. Manusia baik dan jahat adalah titipan yang menjadi perantara antara hidupnya surga dan neraka. Begitu juga dengan paragraf paragraf yang hidup di alam semesta jagat raya yang luas ini. Tidak ada satu golongan makhluk yang mampu hidup sendiri. Maka Tuhan memberikan perantara diantara kita agar saling membantu, bukan membenci.


Menuju jalan panjang, setahun sebelum di rilis.


Share:

Posting Komentar

Kembara | Bagian Ketiga Belas

Pengembaraaan menuju telaga Solipsisme Berupaya menjadi manusia yang sebaik baiknya didepan manusia lainnya. Usaha untuk mendapatkan perhati...

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes