CERPEN (Menunggu Malam) - Sajak Aksara

CERPEN (Menunggu Malam)


Siang yang terik memang hari ini. Matahari yang membakar segala jenis kulit membuat segala makhluk hidup untuk berteduh pada jauhnya sinar matahari. Sekedar melindungi diri dari terik yang menyengat itu. Sungguh sangat menyengat. Pohon yang teduh atau atap rumah adalah sebagai pelindung yang sangat dibutuhkan dari panas. Melindungi diri dari serangan matahari siang ini. Namun tidak dengan seorang anak laki-laki dengan perawakan kurus. Wajahnya tirus dan rambutnya sedikit keriting berwarna hitam. Warna kulit tubuhnya sawo hampir matang. Dia adalah satu-satunya manusia yang tak berteduh di tengah kota dari terik panas siang ini. Dia bercinta dengan matahari dengan lihai, bahkan dia merayu matahari agar lebih panas lagi.

            Dia adalah anak dari desa seberang kota yang kini tidak lagi memiliki seorang ayah dan ibu. Bahkan untuk sanak keluarga saja tak ada sama sekali. Mungkin ada, namun tak diketahuinya saja. Jauh dari kehidupan keluarga mengharuskannya hidup semandiri mungkin dalam kesendirian dan tumbuh dewasa tanpa bantuan dari sanak keluarga. Kasih sayang seorang ayah tak lagi bisa dia dapatkan, apalagi cinta seorang ibu yang penuh ketulusan, sudah tak pernah dia dapatkan sejak ditinggalkan oleh keduanya. Kini harus hidup seorang diri dan bertahan bersama manusia lain yang tak dikenalnya.

            Karena tidak ada lagi yang bisa menafkahinya, maka dia berjuang dalam menyambung hidup ditengah perkotaan yang penuh dengan ego manusia yang mengejar dunia. Hidup ditengah perkotaan yang begitu rumit dengan masalah membuatnya harus menghadapi itu semua dengan penuh kesabaran dan juga ketabahan. Kini dia harus menjadi kuli pengangkat beras disetiap pagi dan siang. Sisanya dihabiskan menyendiri entah kemana. Sebab tak tau mau pulang kemana.  Itulah yang dikerjakannya pada setiap hari. Kerja lalu pergi entah kemana untuk menikmati sebuah kesepian ditengah keramaian orang banyak.

            Habibi terlihat lelah dengan keringat dingin didahinya. Tak berhenti mengangkat beras untuk dipindahkan ke truk beras. Sedangkan kawan-kawannya yang lain telah beristirahat disebabkan lelah dan sinar matahari yang menyengat. Namun dia tetap bersikukuh melawan capek dan panas demi menyambung hidup hari ini.

‘’berhentilah kau sejenak, tidakkah kau rasakan panas yang menyengat ini ?” sebuah tawaran istirahat dari kepala toko yang mempekerjakannya, karena merasa kasian dan iba pada Habibi. Tetap saja dia menolak tawaran itu

“tidak, terimakasih pak” penolakan dari Habibi hanya mendapatkan respon kerutan dahi dari bosnya. Ini adalah sebuah kesempatan yang sering dia lewatkan jika ditawarkan. Sebab dia mengejar target agar lebih banyak lagi mendapatkan uang untuk hari ini. Sebab pada setiap karung yang berhasil diangkut dari dalam toko ke truk beras adalah dua ribu rupiah. Maka jika sehari hanya bisa mengangkut tiga puluh karung beras, hanya akan berjumlah enam puluh ribu saja perhari. Sedangkan tiap uang harian itu disisihkan Habibi untuk di masukkan kedalam celengan ayam miliknya.

            Truk beras telah selesai di isi penuh oleh pekerja toko dan kemudian truk pergi meninggalkan toko itu. Dan kemudian hilang dipersimpangan jalan. Semua orang kembali antri didepan bos pemilik toko beras untuk mendapatkan imbalan sesuai yang diangkutnya ke atas truk tadi. Senyum bahagia, lelah dan capek bersatu padu pada mereka yang telah mengangkut beras itu. Sebagian yang bekerja adalah mereka yang sedang menafkahi anak dan istri di rumah. Hanya pekerjaan ini saja yang dapat mereka lakukan demi menyambung hidup ditengah perkotaan tiap harinya. Begitu juga dengan Habibi, berjibaku pada karung beras dan mengorbankan masa muda untuk mencari nafkah demi kelangsungan hidupnya.

            Semua orang kembali kerumah dan kediaman masing-masing untuk sekedar istirahat atau melihat keluarga dengan senyuman yang indah untuk menambah semangat hidup. Tapi tidak dengan Habibi, melangkah jauh dari tokoh dan kembali ketempatnya yang tidak layak dikatakan sebagai tempat manusia. Dia tinggal dibawah kolong jembatan bersama seorang kakek tua yang tak dikenalnya. Dia kembali ke tempat itu ketika ingin saja. Jika tidak ingin kembali, makan seminggupun tak akan kembali. Dia lebih memilih menunggu malam di jembatan kota sambil duduk diatas kursi besi dan melihat semesta diatas sana. Itulah yang lebih disukainya.

            Matahari mulai lengser sedikit ke barat pertanda sore akan tiba hari ini. Habibi masih melangkah lesu menuju kolong jembatan tempat tinggalnya. Wajah yang lelah dan keringat yang membasahi bajunya adalah sebuah bukti kelesuhan itu. Walau seperti itu senyum masih menghiasi wajah tirusnya itu.

            Orang-orang ditaman kota mulai berdatangan untuk meramaikannya. Walau hanya sekedar rumpi dan membahas hal yang tidak begitu penting. Anak-anak yang berlarian dan diawasi oleh ayah dan juga seorang ibu adalah pemandangan yang sering dilihat oleh Habibi apabila pulang dari kerja mengangkat beras. Memandangi seorang anak yang berlarian dan bercanda dengan ayah. Sedangkan ibu tertawa melihat tingkah itu. Rasa sedih dan rindu tak bisa Habibi sembunyikan jika sudah melihat hal itu. Dan tanpa sadar air matanya menetes jatuh  ke pipi. Sungguh bahagia anak itu yang sedang didamping seorang ayah dan ibu. Penuh kasih sayang dan tumbuh dalam keluarga yang bahagia. Fatamorgana dan bayang-bayang itu telah menghampiri Habibi jika melewati taman kota. Sebenarnya hal itu yang ingin dilihatnya, walau hanya sekedar melihat tanpa harus meiknmati kebahagiaan itu. Tapi sudah lebih dari cukup memandang hal itu yang masih bisa dilihatnya.

            Tak mau berlama melihat pemandangan di taman kota itu. Habibi terus melanjutkan langkahnya untuk kembali. Di depan sebuah toko, tepat di pinggir jalan. Seorang kakek buta duduk dan kardus kecil didepannya. Tidak lain adalah seorang pengemis tua yang meminta belas kasih manusia lainnya. Itulah caranya agar tetap bisa bertahan hidup ditengah kebutaan dan kelemahan fisik. Habibi kembali menatap sesuatu yang membuat hatinya merasa kasian dan juga sedih. Orang-orang yang berjalan didepan pengemis tua itu, hanya sekedar lewat atau menengok isi kardus kecil itu. Ada sebagian lagi dari mereka melemparkan koin receh ke kardus itu (tanpa sebuah keikhlasan). Habibi menarik selembar kertas sepuluh ribu untuk diberikan kepada kakek tua itu. Padahal uang itu seharusnya akan di tabungnya. Karena merasa kasian pada pengemis tua itu, maka direlakannya.

            Dengan senyum pada pengemis tua itu, habibi memberikan uangnya. Walau sebenarnya si pengemis tidak bisa melihat nominal uang dan senyum yang diberikan Habibi. Tapi, sebuah harapan yang tertanam pada Habibi adalah semoga beliau akan merasakan senyumnya itu walau tak bisa melihatnya.

            Sebelum sampai dikolong jembatan itu, biasanya dia akan membeli nasi untuk makan malam nanti. Dan kemudian dibawanya pulang kerumah (Bagi Habibi rumah adalah bahagiaku, walau itu hanya kolong jembatan). Matahari mulai menenggelamkan diri di ufuk barat sehingga megah merah alias senja akan muncul menyambut malam. Kelelawar juga akan keluar mencari sebuah penghidupan.

            Senja dengan warna indahnya telah menampakkan kemegahannya dimuka bumi. Memaparkan sejuta rasa pada kerlipan aksa manusia. Sedangkan mentari mulai melambai jauh tuk berpisah dan bertemu esok hari. Inilah waktu menunggu malam, tak ada lagi bising dari keramaian kota yang penuh ego dan ambisi orang-orang berdasi. Habibi dengan wajah tirusnya memandangi senja dari jembatan kota sambil senyum penuh harapan esok hari.

            Sebelum esok datang, maka malam menunggu tuk dijamah dan dinikmatinya. Jembatan kota selalu menjadi tempat favorit Habibi tuk menunggu malam. Sebab disana senja sungguh terlihat indah dan menggoda pada setiap aksa yang memandang. Malam akan bercerita tentang keindahan rembulan dan rasi bintang yang menjadi pertunjukkannya. Malam juga sebagai tempat curhat Habibi dikala merindu pada bulan yang jauh disana. Semoga malam ini akan memberikan hiburan yang memukau pada Habibi.
Share:

Posting Komentar

Makan Nasi Pecel Di Warung Tertinggi Indonesia Milik Mbok Yem

Gunung Lawu Sepertinya makan di warung warung pingir jalan sudah biasa, sudahkah kamu mencicipi makanan di gunung? Pastinya memiliki rasa da...

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes