CERPEN (Sebuah Pilihan) - Sajak Aksara

CERPEN (Sebuah Pilihan)



            suara bising kota tak akan pernah terdengar di tempat ini. Dimana lagi kalau bukan sebuah pedesaan yang penuh kedamaian di setiap penjuru jejak kaki anak desa. Hidup di tempat ini akan sangat sungguh berbeda dengan hidup di tengah perkotaan yang penuh dengan kebisingan kendaraan dan juga caci maki orang-orang pada ambisi dan ego dikepala. Tak ada yang mau disalahkan, pembenaran adalah milik mereka yang bertahta dan berharta.

            Kicau burung di pinggir sungai menilih indah di telinga. Pepohonan yang rindang berjejer rapi dan indah, sehingga mampu membuat mata menjadi sejuk dan damai terasa. Dedaunan ikut menari di tengah jejeran itu, sembari mengikuti alunan sepoi yang semakin meniup pada mentari siang ini. Suara ari sungai sungguh merdu, mengalir tanpa ada kandas sedikitpun, mengalir terus mengikuti alur hilir sungai kelautan. Air yang jernih itu membuat ikan-ikan yang ada didalam sana terlihat oleh mata. Menari kesana kemari mencari selahap makanan di bebatuan sungai.

            Irsad dengan kail pancingannya yang panjang sedang duduk dipinggir sungai dan menelaah ke sungai. Pancing yang terbuat dari bambu mati dan ujung bambunya di ikatkan seutas tasi berwarna bening. Irsad terus memandangi ujung tasi itu di pinggir sungai, berharap ada ikan yang memakan umpannya. Cukup lama dirinya menunggu ada ikan yang melahap umpan miliknya. Namun sama sekali tak ada yang mau memakan umpan itu. Mungkin ikan sadar jika umpan itu akan membawanya pada dunia lain. Hingga beberapa menit kemudian ujung tasing mulai bergerak. Sepertinya ada yang memakan umpan miliknya kali ini. Semoga saja itu adalah ikan yang besar (harapnya).

            Ditariknya dengan kencang pancing itu. Ujung bambu pancingan itu bengkok akibat beban ikan yang ditarik itu. Tarik menarik terjadilah antara dia dan ikan yang ada di kail pancingan miliknya. Tak ada yang mau mengalah antara mereka. Saling bersikukuh untuk memenangkan pertarungan. Namun apa daya ikan itu berhasil melepaskan diri dari kail pancing miliknya. Rasa kesal tiba-tiba mencuap dalam dirinya, muka merah padam. Menunggu sampai hampir setengah jam dan harus merelakan kepergian ikan itu. Mungkin hari ini bukan keberuntungan miliknya. Namun keberuntangan siang ini lebih memihak pada ikan sungai itu. Akhirnya irsad memustuskan untuk berhenti dan pergi mengembala kambing milik ayahnya yang ditinggal di lapangan samping sungai tadi.

            Dilihatnya kambing itu masih merumput pada lapangan. Saling berebut makanan, tetapi sepertinya ada yang kurang dari jumlah mereka semula. Kemudian irsad menghitung jumlah mereka. Satu dua tiga empat lima enam tujuh, loh kok cuman lima. Mana yang dua lagi perginya. Hatinya menjadi semakin resah dan gulana saja. Setelah dikecewakan ikan tadi, kini dirinya kembali dikecewakan oleh seekor kambing siang ini. Dilihatnya sekitar lapangan, berharap masih bisa melihat kambing yang hilang dari rombongan itu. Nihil, hasilnya sama sekali tak meredahkan hatinya. Kosong, tak ada. Kemana kedua kambing itu pergi. Ataukah mereka sedang bercumbu berdua (mana mungkin hewan itu bersembunyi). Hatinya semakin gusar saja, sebab jika kambing itu sampai hilang, maka dia akan mendapat marah dari ayahnya.

            Mentari kini semakin mencambukkan terik panas pada wajah irsad, dia harus membawa kambing itu ketempat teduh. Agar dirinya bisa mengawasi kambing kambing itu dari jauhnya terik mentari. Dia berharap dengan menunggu di bawah pohon mangga, kambing yang hilang akan segera kembali dalam rombongan. Harapnya.

            Dibawah pohon yang cukup rindang, dirinya berteduh dari teriknya panas mentari siang ini. Sambil mengawasi kambing milik ayahnya yang sedang menikmati makan siang di lapangan. Dirinya masih di serang rasa cemas, sebab kedua kambing itu belum juga kunjung datang. Apakah mungkin kedua kambing itu di ambil orang, atau bergabung dengan kelompok kambing lain milik orang lain. Sepertinya dia harus tetap disini saja, mengawasi kambing yang lain. Sembari menunggu kedua kambing itu kembali lagi. Semoga saja cepat kembali (harapnya).

            Sejam berlalu masa penantian itu, tetap saja. Kedua kambing itu belum juga datang bergabung bersama rombongan yang lain. Rasa cemas dan takut kini semakin menjadi jadi saja. Sedangkan mentari sebentar lagi akan sampai pada waktunya untuk mengembailkan kambing kedalam kandang. Dia harus mengambil keputusan agar dirinya tidak mendapat marah dari ayahnya. Memilih antara pergi mencari kedua kambing itu dan meninggalkan rombongan kambing yang lain tanpa pengawasan. Atau opsi yang kedua, tetap berada dibawah pohon yang dingin sambil mengawasi rombongan kambing dan menunggu kembalinya kedua kambing itu. Dirinya mulai bimbang antara mencari dan tetap ditempat. Kedua pilihan itu sama sekali bukan solusi yang baik baginya. Sebab jika dia pergi meninggalkan  rombongan kambing untuk mencari dua kambing yang lain, maka tidak akan ada yang mengawasi mereka. Malah akan menambah jumlah yang hilang saja. Dan jika dia tetap menunggu dan mengawasi rombongan itu. Takutnya kedua kambing tak akan pernah kembali sampai waktunya untuk pulang.

            Bimbang dan bingung yang dirasakan sekarang. Bahkan rasa kesal dan penyesalan mulai menggerutu dalam dadanya. Mengapa dia harus meninggalkan rombongan kambing itu dan pergi memancing tadi, dan pada akhirnya harus seperti ini. Pilihan adalah sebuah penentu baginya saat ini, dia harus benar-benar memilih pilihan yang tepat. Segala rasa amarah bukanlah jalan yang baik saat ini. Menenangkan pikiran dan berpikir jernih adalah jalan satu satunya untuk mendapatkan sebuah pilihan yang tepat saat ini. Bukan bercumbu dengan rasa marah dan ego  yang akan menghancurkan pilihannya.

            Pada akhirnya dia harus tetap menunggu saja dibawah pohon sambil mengawasi kambing kambing itu dan berharap kedua kambing itu akan segera kembali pada kelompok. Dia tidak hanya menunggu, dia juga memanggil manggil dengan suara khas untuk memanggil kambing itu. Nihil, sama sekali tidak ada jawaban dari suaranya itu. Kambing itu tetap tak terlihat pertanda akan kembali. Dan kini satu kambing dari rombongan malah ingin memisahkan diri juga. Dikejarnya kambing itu dan dikembalikan lagi. Coba saja dirinya tadi tetap pergi mencari kedua kambing itu, malah semuanya akan ikut hilang.

            Rasa lelah mulai mengahmpiri dirinya. Kulit sawo matangnya di basahi keringat akibat panas mentari dan juga rasa takut yang belum juga pergi dari dalam dirinya, kedua kambing itu penyebabnya. Kicauan burung terdengar menyanyikan lagu dari atas pohon tempatnya berteduh. Bernada jelek namun cukup menghibur dirinya dari kepergiaan kedua kambing itu.

            Menunggu adalah perbuatan yang paling di segani oleh manusia. Dan itulah yang harus dirasakan oleh irsad saat ini. Harus menunggu kedua kambing itu pulang. Dan sampai saat ini belum juga kunjung datang. Masih jauh dari harapan. Bibir irsad mulai mengering dan pucat. Bingarnya mulai merasuk pada kepalanya. Melihat amarah ayahnya jika sampai tau kedua kambing itu telah hilang akibat dirinya meninggalkan pengawasan dan pergi memancing. Ini adalah sebuah amanah yang harus dijaganya, jangan sampai dia mengecewakan seorang ayah hanya karena kedua kambing itu. Kambing itu harus di temukannya kembali dan dibawa pulang ke kandang dalam jumlah yang sama.

            Dia harus menunggu dan bersabar kedua kambing itu kembali. Sebab firasatnya mengatakan kedua kambing itu akan segera kembali pada rombongan lagi. Ini hanya masalah waktu saja. Dia harus bersabar dan benar benar bersabar. Jangan sampai pilihan yang telah dipilihnya adalah sebuah inkar baginya sendiri. Sembari menunggu, dia kemudian meneriakkan suara lagi di sekitar lapangan. Berharap kedua kembing itu mendengar dan akan kembali lagi. Sama saja, tak ada jawaban dari kedua kambing itu. Dan harus kembali menunggu dibawah pohon mangga yang sedari tadi telah menjadi teman setia dalam melindungi dirinya dari teriknya mentari.

            Awan awan putih diatas sana terlihat mengitari mentari sembari mnari bersama angin nirwana. Mata irsad sekarang tertuju pada awan awan putih itu. Memandang sepercik harapan dan kuasa Tuhan di atas sana. Mungkinkah Tuhan akan menolongku sekarang (dirinya mulai bergurutu pada awan disana). Jika awan itu menjadi hitam, maka yang putih akan tetap kembali. Itulah mereka disana, sebuah pertunjukkan yang indah. Dirinya mulai melamun tak karuan.

            Dirinya kembali tersadarkan oleh suara kambing yang menusuk telinganya. Kaget dari lamunan tadi, ternyata dirinya dari tadi sedang melamun. Kemudian rasa panik menghampirinya. Dia kemudian segera melihat pada rombongan kambing itu dan mencoba kembali berhitung.

            Satu dua tiga empat lima enam tujuh, kurang satu lagi. Ternyata yang satu telah kembali dalam rombongan. Terdengar suara kambing di ujung lapangan. Kemudian matanya menilik langsung kesuara itu. Dan delapan, itu adalah dia yang hilang sedari tadi. Akhirnya kembali. Sabar dalam menunggu adalah sebuah pilihan yang tepat baginya tadi. Tetap bersyukur pada segala apa yang telah Tuhan berikan padanya kali ini. Kambing kambing itu kembali berjumlah lengkap lagi. Tak ada yang sia sia dari sebuah penantian, semuanya akan terhitang sebuah upaya dari usaha dalam mencari.

Share:

Posting Komentar

Makan Nasi Pecel Di Warung Tertinggi Indonesia Milik Mbok Yem

Gunung Lawu Sepertinya makan di warung warung pingir jalan sudah biasa, sudahkah kamu mencicipi makanan di gunung? Pastinya memiliki rasa da...

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes