Pertama Kali ke Tanah Papua: Perjalanan Panjang Kendari ke Sorong - Sajak Aksara

Pertama Kali ke Tanah Papua: Perjalanan Panjang Kendari ke Sorong

Kapal PELNI Tilongkabila

Ada banyak tempat di Indonesia yang pengen banget kamu datangi setidaknya sekali seumur hidup. Buat saya, salah satu wishlist terbesar adalah menginjakkan kaki di tanah Papua. 

Entah kenapa, wilayah paling timur Indonesia ini selalu terasa spesial, mungkin karena jaraknya jauh, mungkin juga karena ceritanya selalu terdengar seperti petualangan besar.

Akhirnya kesempatan itu datang juga. Perjalanan ini bahkan terasa lebih spesial karena dilakukan saat pergantian tahun 2025 ke 2026. Rutenya juga tidak langsung, tapi penuh cerita: Kendari – Luwuk – Gorontalo – Bitung – Manado – Sorong. Panjang? Jelas. Capek? Sudah pasti. Tapi seru banget.

Yuk, saya ceritakan bagaimana perjalanan pertama ke Papua ini dimulai.

Naik Kapal PELNI dari Kendari ke Bitung

Kapal PELNI Tilongkabila

Petualangan dimulai dari Pelabuhan Bungkutoko, Kendari, di akhir tahun 2025. Awalnya tujuan utama memang Papua, tapi karena sudah sampai di ujung Sulawesi, rasanya sayang kalau tidak sekalian mampir ke Manado, kota yang terkenal dengan suasana tahun barunya yang meriah.

Perjalanan dari Kendari ke Bitung menggunakan kapal PELNI. Buat kamu yang belum pernah naik kapal jarak jauh di Indonesia, ini pengalaman yang unik. Kadang ramai seperti pasar malam, kadang juga bisa sunyi seperti kapal pribadi.

Di perjalanan ini kapal sempat transit di Luwuk Banggai dan Gorontalo. Yang lucu, setelah Gorontalo suasana kapal jadi jauh lebih sepi. Banyak penumpang turun di sana, jadi sisa perjalanan terasa lebih santai.

Bisa dibilang ini bagian perjalanan yang cukup menyenangkan. Kamu bisa duduk santai di dek kapal, lihat laut luas, dan menikmati angin laut. Kadang ada juga momen random seperti ngobrol dengan penumpang lain yang tiba-tiba cerita hidupnya dari A sampai Z.

Baca juga:

Turun di Bitung dan Lanjut ke Manado

Tugu kota Bitung

Setelah perjalanan laut yang cukup panjang, kapal akhirnya tiba di Pelabuhan Bitung. Dari sini perjalanan belum selesai, karena tujuan selanjutnya adalah kota Manado.

Keluar dari pelabuhan, saya naik mikrolet (atau pete-pete) menuju terminal dengan tarif sekitar Rp10.000. Murah banget, tapi pengalaman naiknya selalu seru.

Kalau kamu belum pernah naik mikrolet di Sulawesi, bayangkan naik angkot tapi dengan musik yang kadang volumenya seperti konser kecil. Perjalanan dari Bitung ke Manado sendiri sekitar satu jam menggunakan bus.

Bagian paling menegangkan dari perjalanan ini ternyata bukan kapal atau pesawat, tapi mencari hotel saat malam tahun baru. Singkat cerita: semua hotel murah penuh.

Awalnya sempat panik juga. Masa iya tahun baru dihabiskan di terminal? Tapi setelah dipikir-pikir, akhirnya memutuskan sesuatu yang cukup spontan: keliling kota Manado sepanjang malam. Ternyata keputusan itu tidak buruk sama sekali.

Suasana kota ramai, kembang api di mana-mana, dan orang-orang terlihat menikmati malam pergantian tahun. Rasanya seperti ikut pesta besar satu kota. Kadang perjalanan terbaik memang muncul dari rencana yang gagal.

Saat subuh tiba, saya pergi ke masjid di kota Manado untuk sholat. Di situ terjadi pertemuan kecil yang cukup mengharukan.

Saya bertemu seorang pemuda dari Maluku yang terlihat kebingungan. Ternyata dia ditinggal temannya, tidak membawa HP, dan uangnya juga sudah habis. Bayangkan berada di kota orang, tanpa uang, tanpa komunikasi. Pasti panik.

Kami sempat ngobrol sebentar sebelum akhirnya masing-masing melanjutkan perjalanan. Momen seperti ini selalu mengingatkan bahwa perjalanan bukan hanya tentang tempat, tapi juga tentang orang-orang yang kamu temui di jalan.

Terbang ke Sorong, Papua Barat Daya

Bandara Sorong

Pagi harinya perjalanan dilanjutkan dengan pesawat menuju Sorong, Papua Barat Daya.

Ini bagian yang rasanya agak surreal. Semalam masih keliling Manado, paginya sudah bersiap menuju tanah Papua. Penerbangan ini terasa seperti gerbang menuju petualangan baru.

Begitu tiba di Sorong, saya langsung dijemput oleh seorang teman yang dulu kenal saat sama-sama di Jogja. Dunia memang sempit, kadang kamu bertemu lagi dengan orang lama di tempat yang jauh dari mana-mana.

Selama di Sorong saya menginap di sebuah hostel dengan harga Rp143 ribu per malam. Yang menarik, sebagian besar penghuni hostel adalah bule. Jadi suasananya agak seperti backpacker hub internasional.

Hari pertama di Sorong juga sempat menghadirkan dilema lucu saat cari makan: Mie ayam atau mie babi?

Sebagai orang yang baru pertama kali datang ke Papua, jujur saja sempat bingung juga. Untung akhirnya ketemu pilihan yang aman.

Selama di Sorong saya juga bertemu teman lama dari pesantren. Tidak disangka bisa bertemu lagi di ujung timur Indonesia.

Kami sempat keliling kota Sorong, ngobrol panjang tentang masa sekolah dulu, dan tentu saja nostalgia yang tidak ada habisnya. Kadang perjalanan jauh justru mempertemukan kamu dengan kenangan lama.

Insiden Parkir yang Bikin Deg-degan

Pulau Banggai, Luwuk

Ada satu kejadian yang cukup bikin jantung berdebar. Saat sedang duduk santai di minimarket kota Sorong, saya tiba-tiba didatangi seorang pace yang terlihat cukup menyeramkan. Dia meminta uang parkir.

Masalahnya saya gak bawa motor. Jadi saya agak bingung juga ini parkir apa yang harus dibayar. Untungnya beberapa warga lokal menegur orang tersebut, jadi situasi langsung aman. Tapi jujur saja, itu momen yang cukup memacu adrenalin.

Perjalanan memang tidak selalu mulus, tapi justru cerita seperti ini yang bikin pengalaman traveling jadi lebih berkesan.

Sayangnya waktu di Sorong hanya tiga hari. Rasanya belum puas menjelajah, tapi perjalanan harus dilanjutkan pulang ke Kendari.

Rute pulangnya juga tidak langsung. Saya harus transit di Makassar selama dua hari, karena saat itu tiket pesawat murah tidak tersedia.

Kalau kamu penasaran harga tiket Sorong ke Kendari, sebaiknya cek sendiri. Kadang bisa murah, kadang juga bisa bikin dompet mendadak sedih. Perjalanan pertama ke Papua ini benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan.

Dari kapal PELNI yang panjang perjalanannya, tahun baru tanpa hotel di Manado, sampai kejadian random di Sorong, semuanya terasa seperti potongan cerita petualangan. Dan satu hal yang pasti, Papua bukan hanya destinasi, tapi pengalaman hidup.

Baca juga:

Kalau suatu hari kamu punya kesempatan ke sana, jangan ragu untuk berangkat. Siapa tahu perjalananmu juga akan penuh cerita atau minimal penuh cerita lucu yang bisa kamu kenang bertahun-tahun kemudian.

FAQ Seputar Perjalanan Menggunakan Kapal PELNI

Q: Berapa tiket kapal PELNI Kendari ke Bitung?

A: Harganya Rp425.500. Tapi, pada saat liburan nataru atau pada saat lebaran, harganya cuman Rp300.400

Q: Bagaimana cara pesan tiket PELNI?

A: Pesan tiket secara online melalui website resmi PELNI atau aplikasi PELNI Mobile yang tersedia di smartphone.

Q: Di mana beli tiket kapal PELNI?

A: Kamu bisa beli di website resmi PELNI, aplikasi PELNI Mobile, agen travel resmi, kantor cabang PELNI di pelabuhan dan Minimarket tertentu.

Q: Bisakah beli tiket kapal PELNI di Indomaret?

A: Ya, kamu bisa membeli tiket kapal PELNI di Indomaret. Caranya juga cukup mudah. Kamu hanya perlu datang ke kasir dan mengatakan ingin membeli tiket PELNI.

Q: Cara ke Bitung ke Manado?

A: Naik mikrolet atau pete-pete dari sekitar pelabuhan menuju terminal. Tarifnya biasanya sekitar Rp10.000. Setelah sampai di terminal Bitung, kamu bisa melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju Manado. Waktu tempuhnya sekitar 1 jam perjalanan dengan biaya 15 ribu rupiah.
Share:

Posting Komentar

Pertama Kali ke Tanah Papua: Perjalanan Panjang Kendari ke Sorong

Ada banyak tempat di Indonesia yang pengen banget kamu datangi setidaknya sekali seumur hidup. Buat saya, salah satu wishlist terbesar adala...

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes