Indonesia Timur selalu punya cara sendiri untuk memanggil orang-orang yang suka petualangan. Bukan dengan kemewahan, tapi lewat jarak yang jauh, rute yang ribet, dan cerita-cerita tak terduga di sepanjang perjalanan. Solo travel ke Tual bukan tipe perjalanan yang tinggal pesan tiket lalu sampai, tapi perjalanan yang menuntut nekat, sabar, dan siap menerima kejutan.
Perjalanan ini saya jalani bukan karena semuanya sudah terencana rapi, tapi justru karena rasa penasaran pada Pulau Kei yang selama ini cuma saya lihat dari foto-foto laut biru di internet. Dari bandara kecil, kota pelabuhan yang tenang, sampai kapal PELNI yang jadi rumah sementara di laut, semuanya memberi pengalaman baru yang gak bisa diganti sekadar liburan singkat.
Jurnal ini adalah cerita perjalanan pribadi saya saat menjelajah Tual dan Pulau Kei, lengkap dengan suka-duka yang mungkin bakal kamu alami juga kalau suatu hari memilih jalan yang sama.
Baca juga:
- Perjalanan Gabut Naik KRL Jogja Solo
- Perjalanan Seru dari Kendari ke Pulau Kabaena
- Solo Travel Jakarta dari Kendari: Jelajahi Ibu Kota Sendirian
Solo Travel ke Maluku Selatan
Perjalanan solo travel ke Maluku Selatan ini saya mulai dari Kendari menggunakan pesawat, dan jujur saja rutenya cukup panjang serta butuh persiapan yang matang. Saya harus melewati jalur Kendari – Makassar dengan waktu transit sekitar 14 jam, lalu melanjutkan penerbangan ke Ambon, sebelum akhirnya tiba di Bandara Langgur, Maluku Tenggara.
Buat kamu yang ingin ke Pulau Kei, penting banget untuk menyiapkan jadwal penerbangan dengan cermat, membawa bekal makanan ringan, serta memastikan baterai HP dan power bank selalu penuh, karena waktu transit bisa sangat lama.
Selain itu, siapkan juga uang tunai secukupnya, sebab tidak semua tempat di Maluku Tenggara menyediakan ATM atau pembayaran non-tunai. Dari Bandara Langgur, perjalanan masih harus dilanjutkan lewat jalur darat menuju kota Tual, jadi kamu juga perlu memikirkan opsi transportasi sejak sebelum berangkat.
Secara fisik dan mental, perjalanan ke Indonesia Timur memang gak bisa dianggap enteng. Rasa lelah pasti ada, apalagi dengan transit panjang seperti di Makassar. Saya sendiri memanfaatkan waktu transit tersebut untuk istirahat, mandi, dan mengisi tenaga, supaya tubuh tetap fit saat melanjutkan penerbangan berikutnya.
Begitu sampai di Langgur, perasaan saya campur aduk antara senang karena akhirnya sampai di Pulau Kei, tapi juga bingung karena minimnya informasi transportasi lokal. Di titik ini, persiapan mental sangat dibutuhkan.
Sebaiknya sebelum berangkat, kamu sudah punya gambaran soal jarak antar kota, estimasi biaya transportasi, serta penginapan tujuan, agar gak panik saat tiba di bandara dan bisa menikmati perjalanan dengan lebih tenang.
Baca juga:
- Perjalanan Ke Kecamatan Kutoarjo Dari Stasiun Tugu Jogja
- Pecahan Memori Makassar: Keliling Kota, Maros, hingga Malino
- Pesona Pulo Dua di Morowali Sulawesi Tengah
Kena Scam di Bandara Langgur
Nah, di sinilah pengalaman kurang menyenangkan itu terjadi dan sekaligus jadi pelajaran penting buat kamu sebelum menjelajah Pulau Kei. Saat tiba di Bandara Langgur, saya benar-benar bingung mencari transportasi yang murah dan masuk akal menuju kota Tual.
Informasi di internet soal transportasi lokal di Maluku Tenggara masih sangat minim, mulai dari angkutan umum, tarif ojek, sampai aplikasi transportasi online yang bisa digunakan. Saya juga belum tau ojol apa yang beroperasi di sini, jadi gak sempat menyiapkan alternatif sejak awal.
Baiknya, sebelum ke Pulau Kei, sebaiknya kamu sudah riset soal transportasi bandara, estimasi harga, lokasi penginapan, serta sim card lokal dan sinyal internet, karena semua itu sangat berpengaruh saat kamu baru pertama kali datang.
Karena kondisi capek setelah perjalanan panjang dan kepala sudah penuh, akhirnya saya nekat pakai ojek pangkalan bandara. Kesalahan fatalnya jelas: saya tidak nanya harga di awal. Jarak dari Bandara Langgur ke kota Tual sebenarnya cuma sekitar 26 menit, tapi setibanya di tujuan saya dimintai Rp200 ribu. Mau gak mau saya bayar sambil menelan pil pahit solo travel.
Yang bikin lucu sekaligus nyesek, beberapa hari kemudian saya baru tau kalau di kota Tual sebenarnya sudah ada ojek online, yaitu aplikasi inDrive. Saya tau ini bukan dari internet, tapi dari poster yang ditempel di gerobak abang-abang tukang martabak. Sejak itu saya sadar, sebelum ke Pulau Kei kamu wajib siapin riset kecil-kecilan, minimal tau aplikasi transportasi yang tersedia, biar kejadian serupa gak kamu alami.
Menginap di Wima Biru, Penginapan Murah di Tual
Sesampainya di Tual, saya langsung check-in di Penginapan Wima Biru, yang saat itu jadi opsi paling realistis buat saya sebagai solo traveler dengan budget terbatas. Jangan berharap banyak soal fasilitas di tempat ini, karena memang sangat sederhana. Waktu itu saya sewa Rp100 ribu per malam, dengan kondisi kamar yang cukup layak untuk sekadar istirahat dan tidur.
Menariknya, kamar yang saya tempati sebenarnya bisa diisi hingga tiga orang, jadi kalau kamu datang bareng teman, biayanya bisa patungan dan jauh lebih murah. Mayoritas penghuninya adalah orang-orang yang transit sambil menunggu jadwal kapal, dan kebanyakan berasal dari Indonesia Timur. Suasananya sederhana tapi gak terasa rawan, asal tetap disiplin menjaga barang pribadi dan gak ceroboh, penginapan ini relatif aman.
Karena rencana saya cuma eksplor Pulau Kei selama 3 hari 2 malam, penginapan sederhana seperti Wima Biru sudah lebih dari cukup. Justru sebelum berangkat ke Pulau Kei, ada beberapa hal yang perlu kamu persiapkan.
Pertama, uang tunai secukupnya, karena ATM dan pembayaran non-tunai masih terbatas. Kedua, kalau kamu ingin rental motor harus tanya ke pangkalan ojol yang mau disewakan. Tapi selama perjalan ke pulau ini saya hanya mengandalkan aplikasi inDrive, karena bisa tahu biayanya langsung. Ketiga, bawa perlengkapan pribadi seperti sandal, obat-obatan, dan power bank, karena akses ke toko modern juga terbatas.
Dari penginapan ini, saya bisa jalan kaki ke beberapa spot, cari makan sederhana di sekitar pelabuhan, dan tentunya punya akses super dekat ke pelabuhan untuk naik kapal PELNI, yang sangat membantu buat rencana perjalanan saya selanjutnya.
Naik Kapal PELNI Pertamakali
Awalnya, saya gak mau naik pesawat untuk perjalanan pulang karena harga tiket pesawat Kendari – Langgur itu mahal banget. Kalau kamu cek sendiri, harganya bisa buat beli HP baru. Karena tiket pesawat habis dan gak masuk budget, akhirnya saya pilih jalur laut.
Saya cuma dapat tiket kapal PELNI dari Tual ke Bau Bau, dengan rute singgah di Banda Neira dan Ambon. Tujuan saya memang ingin pulang sambil singgah di beberapa tempat, bukan cuma sekadar sampai tujuan.
Pengalaman naik PELNI pertamakali ini cukup seru. Walaupun fasilitasnya standar, suasana kapal dan bertemu banyak orang dari berbagai daerah jadi pengalaman tersendiri.
Melipir ke Banda Neira
Salah satu alasan utama saya memilih naik kapal PELNI adalah kesempatan untuk singgah di Banda Neira, meskipun cuma transit sekitar 4 jam. Waktu singkat ini tetap bisa dimaksimalkan asal kamu sudah punya rencana jelas sejak turun dari kapal. Begitu sampai di pelabuhan Banda Neira, kamu bisa langsung naik ojek menuju Benteng Belgica yang jaraknya kurang lebih 8 menit dari pelabuhan.
Ongkos ojeknya juga murah, cukup Rp10 ribu sekali jalan, jadi pulang-pergi hanya Rp20 ribu. Tips penting sebelum ke Pulau Kei atau melipir ke Banda Neira saat transit seperti ini, pastikan kamu sudah menyiapkan uang tunai pecahan kecil, pakai alas kaki yang nyaman, dan simpan barang bawaan seperlunya saja agar bisa bergerak cepat tanpa ribet.
Dalam waktu terbatas itu, saya juga sempat belanja oleh-oleh khas Banda seperti pala dan produk turunannya yang dijual di sekitar pelabuhan. Pengalaman singkat ini justru bikin Banda Neira benar-benar jatuh cinta, bahkan hanya dalam hitungan jam. Buat kamu yang berencana ke Pulau Kei dan melewati rute laut seperti saya, penting juga mempersiapkan kondisi fisik, jadwal kapal, serta akomodasi jauh-jauh hari karena jalur Indonesia Timur gak selalu fleksibel.
Ke depan, saya pribadi pengen banget bisa kembali dan tinggal sebulan penuh di Banda Neira, menikmati suasana yang tenang, alam yang masih alami, dan ritme hidup yang jauh dari kata terburu-buru, sesuatu yang rasanya jarang bisa ditemukan di kota besar.
Baca juga:
- Makan Nasi Pecel Di Warung Tertinggi Indonesia Milik Mbok Yem
- Melancong ke Bali Naik Bus Gunung Harta dari Surabaya
- Naik Kereta Bogowonto Jakarta Jogja, Oke Juga Nih!
Solo travel ke Tual ini penuh cerita, dari yang menyenangkan sampai bikin kapok. Tapi justru itu yang bikin perjalanan terasa hidup. Buat kamu yang pengen solo travel ke Indonesia Timur, pastikan riset transportasi lebih matang, siap mental, dan nikmati setiap proses perjalanannya.






Posting Komentar